Beranda

Thursday, October 16, 2008

Sebuah kisah waktu

Tersebutlah, di suatu pulau kecil, tinggallah beberapa orang yang mewakili benda-benda abstrak yang kita kenal. Ada Cinta, Kekayaan, Kegembiraan, kesedihan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun, suatu ketika, datang badai menghempas dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.

"Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta. "Aduh! Maaf Cinta!" kata Kekayaan, "Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahu ini." Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.

Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang. la kian panik.

Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta. "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini," sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. la mulai menangis terisak-isak.

Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta. "Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa.

la merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.

Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya lelaki tua tadi.

"Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu.

"Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran.

"Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu-lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu"

Bersyukurlah engkau wahai manusia!!

Segala yang Kita Inginkan Sudah Ada bagi Kita

1. Kita tidak pernah terlambat
–segalanya selalu bisa dipikirkan kembali, dan dimulai dari awal.
2. Jangan khawatir kalau
perubahan yang kita inginkan tidak terjadi dengan seketika –kita telah menanam
benih dan itulah yang penting.
3. Segala hal yang kita inginkan
sudah ada bagi kita --seorang teman sudah ada sebelum kita mengenalnya)
4. Tidak ada hal yang tidak
menarik --yang ada hanya orang yang tidak tertarik.
5. Potensi kebahagiaan ada dalam
sikap kita terhadap apa yang kita miliki –bukan terhadap apa yang kita tidak
punya.

Renungan ini dipersembahkan oleh www.hp.co.id/supplies2point4

Untuk seseorang yang akan menjadi pendampingku

Dalam malam tak berlentera
Dibawah seribu bintang yang gemerlap
Seorang gadis bak bidadari
Tidur lelap dalam kelelahan

Subhanallah, Maha Suci Allah
Wajahnya memancarkan kesejukan, kasih sayang dan kedamaian
Hingga membuat yang memandang
Tenggelam dalam seribu angan

Ya Allah yang Maha Kuasa
Izinkan aku mendampinginya
Kan ku jaga dengan segenap jiwa dan raga
Kan ku rawat dengan segenap kasih dan sayang
Agar ia selalu bahagia dalam cinta yang setia

slideshow

Fotoku

Fotoku
lagi ikut lomba birdwatching

Islamic Web Category

Powered By Blogger