Beranda

Friday, March 16, 2007

Mendaki gunung itu penuh kenikmatan


Banyak orang masih bertanya-tanya sampai sekarang,” Apa sih enaknya naik gunung?” Badan capai, dingin, lapar, dan bisa mati juga. Seperti orang kurang kerjaan saja. Tapi, sebenarnya kalau kita tahu trik-trik dalam pendakian gunung. Kegiatan ini ternyata bisa juga dinikmati dan aman-aman saja selama kita tahu batas kemampuan diri sendiri. Pertama kali yang harus di ketahui dalam perjalanan pendakian gunung adalah bagaimana teknik berjalan. Tentu agak aneh juga kedengarannya. Setiap orang yang punya kaki dan tidak lumpuh pasti bisa berjalan, terus apalagi yang harus dipelajari?
Keseimbangan. Inilah jawaban mengapa kita wajib belajar lagi tentang teknik berjalan di gunung. Di sana, cara berjalan kita tak sama seperti saat kita berjalan di jalan-jalan perkotaan. Di gunung kita harus membawa banyak beban di punggung kita. Kemudian ditambah faktor medan perjalanan yang kadang harus mendaki punggungan-punggungan gunung yang curam, atau melintasi lembah panjang tak bertepi, bahkan kadang-kadang menuruni ceruk-ceruk dalam yang teramat kelam pada akhirnya. Dengan situasi medan seperti itu ditambah dengan beban berat di punggung, maka faktor keseimbangan tubuh adalah mutlak untuk dipelajari.Maka itu diperlukan harmoni untuk mencapainya.
Aturan napas dan gerak langkah haruslah seirama satu sama lainnya. Seperti juga dalam sebuah orkes simfoni, keterpaduan antara pengaturan permainan napas yang disingkronkan dengan gerak langkah yang tidak kaku menjadi sebuah harmonisasi nada tersendiri. Dan jadikan gerak melangkah dalam perjalanan itu sebuah seni tersendiri. Memang benar ada beberapa prinsip dalam berjalan yang harus dituruti. Seperti melangkahlah dengan langkah-langkah kecil saja. Sebab langkah yang terlalu lebar membuat beban yang dibawa menjadi hanya bertumpu pada satu kaki saja, sehingga membuat keseimbangan kaki menjadi gampang goyah. Selain itu keuntungan lain yang didapat dengan melangkah kecil-kecil adalah membuat napas lebih mudah diatur. Hal ini berdampak langsung pada sistem penghematan tenaga yang terbuang. Memang efek samping yang paling kentara dari berjalan dengan langkah kecil ini adalah melambatnya irama jalan. Tapi itu lebih baik adanya daripada berjalan cepat-cepat tapi banyak istirahat yang dibutuhkan. Sedangkan parameter yang dapat dijadikan pegangan untuk mengetahui sampai batas seberapa kita melebihi irama jalan adalah saat kita mulai merasa sulit berbicara dengan rekan seperjalanan. Ini biasanya disebabkan karena irama napas yang mulai tidak teratur dan hal tersebut menjadi tanda bahwa berarti kita berjalan terlalu cepat.
Teknik Istirahat buat seorang pehobi mendaki gunung berpengalaman, berjalan terus-menerus selama dua sampai tiga jam tanpa istirahat bukanlah berat. Tingginya jam jalan dan latihan yang terus-menerus membuat stamina dan kekuatan seperti itu bisa diperoleh. Buat ukuran kita, para awam dapat berjalan satu jam terus-menerus dengan diselingi istirahat selama sepuluh menit adalah wajar.Saat istirahat juga banyak faktor yang harus diperhatikan. Seperti, duduklah dengan kaki menyelonjor lurus ke depan. Karena hal ini dapat melancarkan kembali aliran darah yang sebelumnya hanya terpusat ke kaki. Usahakan cari tempat yang tidak terlalu berangin, karena angin dapat mengerutkan otot yang sedang beristirahat tersebut.
Minum air yang berenergi dan bukalah sedikit makanan ringan yang kita bawa, untuk mempercepat proses recovery pada tubuh.Pendapat yang mengira bahwa meneguk minuman keras di gunung itu baik adalah salah adanya. Memang kehangatan bisa kita dapat dari minuman tersebut tapi pembuluh darah dalam kulit menjadi mengembang dan memberi kesempatan udara dingin masuk ke dalam tubuh. Kehangatan sesaat yang kita terima tidak seimbang dengan akibat setelahnya, yaitu kedinginan dalam jangka waktu lama. Lagipula tak baik bila meminum minuman keras bila sedang dalam berjalan di gunung, selain bisa mengakibatkan mabuk yang bisa berdampak bahaya untuk si pendaki sendiri. Atur waktu istirahat, jangan terlalu lama juga. Selain sayang pada otot-otot kaki yang sudah memanas dan kencang menjadi mengendur karena kelamaan istirahat. Tapi, bila dirasakan Anda memerlukan istirahat lebih lama dari biasanya itu pertanda Anda berjalan terlalu cepat. Dan bila tiba-tiba tiap setengah jam atau kurang Anda merasa membutuhkan istirahat itu berarti pertanda tubuh kita sudah terlalu lemah dan lelah. Masalah kelelahan ini haruslah dipertimbangkan masak-masak. Bila hal ini terjadi tak jauh dari puncak tempat tujuan mungkin kita bisa memaksakan untuk mencapainya. Tapi, bila terjadi di tengah perjalanan dan puncak tempat tujuan kita masih terasa jauh dari depan mata lebih disarankan mengambil istirahat panjang, kalau perlu dirikan tenda untuk beristirahat.
Memilih lokasi istirahat juga harus memperhatikan banyak hal. Pilihlah lokasi istirahat yang memiliki pemandangan indah, karena paling tidak secara psikologis menikmati pemandangan dapat mengurangi perasaan lelah yang timbul selama dalam perjalanan. Makan dan minum secukupnya, kalau perlu dimasak dahulu agar hangat dan segar. Baik juga kalau kita memakan sedikit garam untuk menghindari keram. Medan Selanjutnya yang perlu diperhatikan saat berjalan di gunung adalah memperhatikan betul medan yang akan kita tempuh. Medan yang berumput dan terjal kadang membahayakan, apalagi saat basah karena hujan atau embun pada pagi hari. Bila kita tak berhati-hati melewatinya, tergelincirlah akibatnya. Apalagi bila kita memakai sepatu yang tidak mempunyai sol ber-‘kembang’ yang layak. Sama juga seperti pada medan yang berlumpur dan becek, cenderung licin dan berbahaya.
Di daerah yang penuh kerikil dan batu-batu tajam disarankan berhati-hati dan tidak bertindak ceroboh. Tidak berbeda juga di saat kita menemui daerah dengan batu-batu besar seperti saat di sungai. Kalau bisa melompat dari satu batu ke batu lainnya lebih disarankan. Tapi ini memerlukan kecepatan gerak dan ketepatan dalam melangkah, karena kadang batu tempat kita berpijak sudah bergulir saat kita akan pindah ke batu yang lain. Faktor kelelahan dan pengalaman juga bisa menjadi acuan bila ingin meloncat-loncat seperti ini. Bila kita sudah terlalu lelah cara yang paling aman adalah dengan menaiki satu per satu batu-batu tersebut dan memeriksa dahulu batu-batu yang akan dipijak agar tidak bergulir nantinya. Lain lagi bila menemui daerah dengan karakter berpasir. Berjalan mendaki di daerah seperti ini lebih sukar daripada berjalan di atas tanah keras. Setiap kali dua kali melangkah ke atas tanah akan melorot ke bawah sebanyak satu langkah. Kadang-kadang perlulah menyepakkan kaki agar tanah memadat dan tidak melorot lagi.
Bila kita menjadi orang kedua kita bisa mempergunakan jalur yang pernah dilalui orang pertama, hal ini bisa menghemat tenaga karena tanah berpasir bekas jejak menjadi lebih padat dan keras.Juga jangan cepat percaya pada pepohonan kecil-kecil yang berada di pinggir-pinggir tebing. Seringkali pohon tersebut tak cukup kuat untuk menahan tubuh kita, sehingga gampang tercabut saat kita memakainya untuk menahan bobot badan. Pakailah pohon-pohon tersebut hanya sebagai keseimbangan saja.Jangan terburu-buru mengambil keputusan memotong lintasan yang sudah ada. Memang kadang lintasan tersebut terasa jauh bila kita melewatinya. Tapi percayalah, hal tersebut biasanya dikarenakan faktor mengikuti bentukan alam yang ada di daerah tersebut.
Memang itu adanya jalur yang terbaik. Juga biasanya jalur-jalur memotong itu lebih sulit adanya, lebih baik jalan sedikit melingkar tapi dapat menghemat tenaga daripada mengikuti lintasan memotong tapi terkuras tenaga. Jadi, patut diulang lagi. Ucapan-ucapan yang mengatakan bahwa naik gunung itu susah adalah bohong belaka. Ternyata kita bisa menikmatinya, dan bahaya-bahaya yang timbul di sana sebenarnya bisa diminimalkan dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang kegiatan tersebut. Dan dengan menjadikan sebuah perjalanan menjadi sebuah seni adalah cara tersendiri dalam menikmati ciptaan-Nya.

Saturday, March 10, 2007

Mendaki gunung harus penuh dengan persiapan


BANYAK remaja sering mengisi waktu liburan dengan naik gunung. Namun, karena ketidak-tahuan, kegiatan fisik berat itu sering tidak disiapkan dengan baik.Padahal, mendaki gunung ditentukan oleh faktor ekstern dan intern, dan kebugaran fisik mutlak diperlukan.

Pendaki gunung legendaris asal Inggris, Sir George Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan mengapa ia begitu tergila-gila naik gunung. *Because it is there, *ujarnya. Anggota-anggota Mapala Universitas Indonesia-kelompok pencinta alam tertua (bersama Wanadri Bandung) di Indonesia-contohnya. Mereka punya alasan lebih panjang dari Mallory Dalam halaman awal buku pegangan petualangan yang dimiliki seluruh anggotanya tertulis, Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi. Cinta tanah air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya. Yang jelas, tidak seorang petualang alam-komunitas di Indonesia lebih senang menggunakan istilah pencinta alam-melakukan kegiatan itu dengan alasan untuk gagah-gagahanKarena bukan untuk gagah-gagahan, maka sebaiknya tidak ada Jawaban itu menggambarkan betapa luas pengalamannya mendaki gunung dan bertualang

Selain jawaban itu, masih banyak alasan mengapa seseorang mendaki gunung atau menggeluti kegiatan petualangan lainnya Untuk itulah kami naik gunung istilah modal nekad dalam mendaki gunung. Bagaimanapun, gunung dengan rimba liarnya, tebing terjal, udara dingin,kencangnya angin yang membuat tulang ngilu, malam yang gelap dan kabut yang pekat bukanlah habitat manusia modern. Bahaya yang dikandung alam itu akan menjadi semakin besar bila pendaki gunung tidak membekali diri dengan peralatan, kekuatan fisik, pengetahuan tentang alam, dan navigasi yang baik. Tanpa persiapan yang baik, naik gunung tidak bermakna apa-apa.

Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya pendakian gunung. Pertama, faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri pendaki. Cuaca, kondisi alam, gas beracun yang dikandung gunung dan sebagainya yang merupakan sifat dan bagian alam. Karena itu, bahaya yang mungkin timbul seperti angin badai, pohon tumbang, letusan gunung atau meruapnya gas beracun dikategorikan sebagai bahaya objektif (objective danger).

Seringkali faktor itu berubah dengan cepat di luar dugaan manusia. Tidak ada seorang pendaki pun yang dapat mengatur bahaya objektif itu. Namun dia dapat menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan itu. Diri pendaki, segala persiapan, dan kemampuannya itulah yang menjadi faktor intern, faktor kedua yang berpengaruh pada sukses atau gagalnya mendaki gunung. Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahaya subyektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk melawan dinginnya udara dan kencangnya angin.

Tidak bisa ditawar, mendaki gunung adalah kegiatan fisik berat. Karena itu, kebugaran fisik adalah hal mutlak. Untuk berjalan dan menarik badan dari rintangan dahan atau batu, otot tungkai dan tangan harus kuat. Untuk menahan beban ransel, otot bahu harus kuat. Daya tahan (endurance) amat diperlukan karena dibutuhkan perjalanan berjam-jam hingga hitungan hari untuk bisa tiba di puncak. Bila tidak biasa berolahraga, calon pendaki sebaiknya melakukan jogging dua atau tiga kali seminggu, dilakukan dua hingga tiga minggu sebelum pendakian. Mulailah jogging tanpa memaksa diri, misalnya cukup 30 menit dengan lari-lari santai. Tingkatkan waktu dan kecepatan jogging secara bertahap pada kesempatan berikutnya. Bila kegiatan itu terasa membosankan, dapat diselingi dengan berenang. Dua olahraga itu sangat bermanfaat meningkatkan endurance dan kapasitas maksimum paru-paru menyedot oksigen (Volume O2 maximum/VO2 max). Latihan push up, sit up, pull up sebaiknya juga dilakukan untuk memperkuat otot-otot. Saking semangatnya, pendaki muda kerap kali ingin segera mencapai puncak,apalagi bila kegiatan itu dilakukan berkelompok. Persaingan untuk berjalan paling cepat, paling depan, dan menjadi orang pertama memijak puncak,sebaiknya ditinggalkan. Mendaki gunung yang baik justru melangkah perlahan dalam langkah-langkah kecil dan dalam irama tetap. Dengan berjalan seperti itu , pendaki dapat mengatur napas, dan menggunakan tenaga seefisien mungkin.

Bagaimanapun mendaki merupakan pekerjaan melelahkan. Selain itu, keindahan alam dan kebersamaan dalam rombongan, sering menggoda pendaki untuk banyak berhenti dan beristirahat di tengah jalan. Bila dituruti terus, bukan tidak mungkin pendakian malah gagal mencapai puncak. Karena itu, cobalah membuat target pendakian. Misalnya, harus berjalan nonstop selama satu jam, lalu istirahat 10 menit, kembali mendaki selama satu jam dan seterusnya. Lakukan hal ini hingga mencapai puncak atau hari telah sore untuk berkemah.

Pada medan perjalanan yang landai, target waktu seperti itu dapat diganti dengan target tempat. Caranya, tentukanlah titik-titik target di peta sebagai titik beristirahat. Buatlah jadwal rencana kegiatan sehingga waktu yang tersedia digunakan seefektif mungkin dalam bergiat di alam. Jadwal itu memungkinkan pendaki menghitung berapa banyak makanan, pakaian, peralatan harus dibawa, dan dana yang harus disiapkan. Jadwal itu antara lain mencakup keberangkatan, jadwal dan rute pendakian, kapan tiba di puncak, jadwal dan rute pulang, dan seterusnya. Jadwal pendakian perhari dapat lebih dirinci dengan berapa jam jatah pendakian, pukul berapa dimulai dan kapan berhenti serta seterusnya.

Untuk menghindari beban bawaan terlalu berat, hindari membawa barang-barang yang tidak perlu. Misalnya, cukup membawa baju dan celana tiga atau empat stel meski pendakian memerlukan waktu cukup lama. Satu stel pakaian dikenakan saat berangkat dari rumah hingga kaki gunung dan saat pulang. Satu stel sebagai baju lapangan saat mendaki. Satu stel yang lain sebagai baju kering yang digunakan saat berkemah. Rain coat dan payung dapat dicoret dari barang bawaan bila telah membawa poncho. Bila telah membawa lilin, cukup membawa batu batere seperlunya untuk menyalakan senter dalam keadaan darurat. Piring dapat ditinggal di rumah karena wadah makanan dapat menggunakan rantang memasak atau cangkir. Bila barang perlengkapan telah terkumpul, masukkan semua ke dalam ransel. Jangan biarkan ada sejumlah barang seperti cangkir atau sandal diikat di lua ransel. Selain tidak sedap dipandang, risiko hilang selama pendakian, amat besar.

Meski demikian, ada beberapa barang yang ditolerir bila ditaruh di luar ransel dan diikat dengan tali webbing ransel. Misalnya, matras karet dan tiang tenda. Namun, yakinkan, semua telah diikat dengan kencang. Menaruh barang di dalam ransel amat berbeda dengan cara memasukkan buku-buku pelajaran dalam daypack (ransel kecil yang biasa digunakan ke sekolah). Buku pelajaran, baju praktikum, kalkulator dapat kita cemplungkan begitu saja ke dalam daypack. Sebaliknya, barang-barang pendakian harus dimasukkan dalam ransel dengan aturan tertentu sehingga mengurangi rasa sakit saat memanggul dan menghindari ruang kosong dalam ransel. Prinsip pengepakan barang dalam ransel.

1. Letakkan barang ringan di bagian bawah dan barang berat di bagian atas
2. Barang-barang yang diperlukan paling akhir (misalnya peralatan kemping dan tidur), ditaruh di bagian bawah dan barang yang sering dikeluar-masukkan(seperti jaket, jas hujan, botol air) di bagian atas.
3. Jangan biarkan ada ruang kosong dalam ransel. Contoh, manfaatkan bagian dalam panci sebagai tempat menyimpan beras.

Untuk itu, langkah pertama mengepak perlengkapan pendakian adalah mengelompokkan barang menurut jenis, seperti:
a. pakaian dan kantung tidur,
b. alat memasak,
c. tenda,
d. makanan.

Bungkus kelompok-kelompok barang itu dalam kantong-kantong plastik agar mudah dicari. Sebagian besar pendaki menganggap, mengepak barang merupakan seni tersendiri dan kerap mengasyikkan. Selamat Mendaki!!!

Friday, March 9, 2007

Perkembangan pendaki di era teknologi


Mungkin sebagian orang masih ingat bagaimana kelompok pendaki Indonesia yang berhasil manancapkan bendera merah putih di puncak gunung tertinggi dunia dari sebuah tayangan televisi dan surat kabar pada saat itu, yang membuat decak kagum kita serta bangga.
Seiring itu pula pada perkiraan tahun 1980an kegiatan alam bebas memang mulai semarak, dimana kelompok Mapala UI dan Wanadri tidak asing lagi sebagai pelopor kegiatan alam bebas ditanah air.
Dunia kegiatan alam bebaspun menjadi boming, tidak hanya Universitas dan akademi yang mendirikan klub-klub kegiatan alam bebas ini, hingga tingkat SLTA pun tak ketinggalan menyemarakkan kegiatan alam bebas di tanah air tercinta.
Kegiatan alam bebas yang lebih dikenal pada saat itu dengan sebutan Pecinta Alam (PA) menjamur dimana-mana, sehingga dikenallah sebutan anak gunung atau pecinta alam. Walaupun sebagian kegiatannya berupa kemping gembira di wilayah-wilayah pegunungan yang sejuk udaranya, namun banyak pula klub-klub yang benar-benar serius dalam melakukan kegiatannya di alam bebas ini, sehingga tidak dipungkiri nama besarnya pun menjadi warna tersendiri dalam perjalanan kegiatan alam bebas pada masa itu.
Kegiatan pendakianpun tidak hanya dilakukan oleh organisasi kampus namun organisasi tingkat kelurahan hingga kampong-kampung di pelosok daerahpun mulai mengeliat ikut meramaikan kegiatan alam bebas ini. Namun kendala[in terjadi dimana ketersedian informasi tidak menyebar luas dikalangan pendaki organisasi kecil hingga perorangan ini, sulitnya mencari informasi ataupun diklat-diklat latihan membatasi para pecinta olahraga alam bebas ini dalam menambah dan mengasah pengetahuan dan ketrampilannya. Tidak pula dipungkiri karena kurangnya informasi sebuah perjalanan dalam pendakian kerap menemui hambatan karena kendala situasi dan kondisi di diri pendaki ataupun keadaan di lokasi pengunungan yang tidak sesuai dengan rencana perjalanan semula karena kurangnya informasi sebelumnya.
Seiring perkambangan teknologi dan informasi telah membawa perubahan besar dihampir semua aspek kehidupan manusia, antara lain perkambangan informasi di dunia maya atau internet sejak tahun 1990an, membawa banyak dampak positif, dimana informasi dalam bentuk web dapat dengan mudah dipublikasikan ataupun didapatkan. Website merupakan media infomasi yang menjadi primadona pada era awal internet dikenal di Indonesia, walaupun masih bisa dihitung dengan jari namum kwalitas informasi yang disajikan dalam website tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi netter dalam mencari informasi sebuah pegunungan yang akan didakinya.
Informasi awal dalam sebuah rencana perjalanan memang sangat penting dimana dapat diperkirakan berapa biaya dan berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam pendakian tersebut atau yang lebih dikenal dengan manajemen perjalan. dan tak kalah pentingnya adalah persiapan berupa alat-alat yang dibutuhkan dalam melakukan pendakian disebuah pegunungan.
Memasuki tahun 2000 website tetap masih dominan dalam panyajian informasi namun pradigma dalam kegiatan alam bebas tidak hanya diramaikan oleh para pendaki atau penggiat alam bebas dari kalangan organisasi namun dalam kenyataannya pendakian bersama sesame anggota kelompok dalam mailing list ataupun website komunitas juga mewarnai beberapa kegiatan alam bebas.
suasana dalam sebuah koSalah satu tema dan tujuan dalam mengikuti mailing list ini adalah rasa “persahabatan” sehingga dapat dirasakan sekali bagaimana munitas internet memberikan wahana yang berbeda, dimana kelompok-kelompok pendaki ataupun perorangan saling berinteraksi melalui media e-mail melalui forum mailing-list atau milis, suasana persahabatanpun semakin erat karena setiap anggota dapat mendapatkan informasi maupun memberikan informasi dalam wadah tersebut.
Milis memang sangat memberikan keuntungan besar bagi pendaki dalam melakukan komunikasi, sehingga milis kegiatan alam bebaspun banyak bermunculan dengan ciri khasnya masing-masing, tentu kita sangat diuntungkan, karena kita dapat memilih milis mana yang paling cocok untuk kita bergabung menjadi salah satu anggotanya.
Walaupun terkesan berbeda dalam ciri khasnya masing-masing, adakalanya setiap anggota milis ini adalah merupakan anggota milis lainnya, tak jarang terjadi cros posting antar anggota milis ini, sehingga suasanapun semakin akrab karena sebelumnya kita sudah menganal anggota tersebut sebelumnya.
Kerjasama antar milis pun bisa terjalin, dimana sebuah kegiatan dari milis “A” akan didukung oleh anggota dari milis serupa, sehingga tidak hanya cros psoting yang terjadi namun suasana perkanalan pun semakin berpeluang, apalagi bagi mereka yang memang ingin mencari sahabat-sahabat baru dari berbagai daerah di Indonesia.Lebih dari 12-an milis tercacat yang berhubungan erat dengan kegiatan alam terbuka dan petualangan, seperti milis Pendaki, Pangrango, Highcamp, Merbabu, JejakPetualang, Indobackpacker, Nature Trakker, JalurSutra, sahabatalam, pencintaalam, mapala dan mungkin masih banyak lagi milis-milis lainnya.
Selain melalui milis fasiltas komunikasi di internet dapat pula melalui jalur lainnya seperti Frendster, YahooMessanger, Mirc, Multiply dan website. Dan inilah salah kenyataan yang terjadi dimana persahabatan tidak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu.
Dari tulisan singkat ini tentu peranan teknologi sangat memberikan keuntungan besar bagi pendaki gunung dan para penggiat alam bebas di Indonesia, sebagai ajang persahabatan, informasi dalam berbagi pengetahuan dan pengalamannya masing-masing, seolah-olah para pendaki ini tidak lagi membutuhkan sebuah organisasi yang formal, karena menjadi salah satu organisasi yang formal tentu tidak mudah, apalagi harus ada tes seleksi untuk menjadi anggota sebuah klub / organisasi yang formal ini.
Semoga dengan banyaknya website, milis dan media lainnya akan memberikan keleluasaan keterbukaan informasi, sehingga tidak ada lagi kata sulit mencari sebuah data gunung yang bisa membatalkan perjalan pendakian anda.

Tantangan dan Kenikmatan seorang Pendaki


Buat apa capek-capek mendaki gunung, kedinginan, lapar dan tentunya maut di depan mata. Pertanyaan itu seoalah menggelitik tiap pendaki. Ada yang bilang pekerjaan sia-sia, tapi ada pula yang bilang hobby. Ada yang berpendapat sekali coba pasti mau lagi, tapi yang kapok karena capek dan pegel-pegelnya tidak bisa hilang dalam dua hari. Apapun itu, geliat pendakian di tiap-tiap gunung di Indonesia dan di didunia tidak pernah sepi. Perusahaan-perusahaan yang membantu pendakian professional bermunculan, dan tidak hanya di kalangan mahasiswa-pelajar saja yang merasakan nikmatnya naik gunung. Baru-baru ini ada sepasukan pengusaha-pengusaha dari seluruh dunia, menjajal everest. Gengsi, prestise, dan entah pada deskripsi yang mana mereka menempatkan pendakian mereka hari itu. Lalu, bagaimana di negeri kita sendiri. Jawabannya, tidak jauh berbeda.

Menjadi pendaki, buat kebanyakan anak muda jaman sekarang boleh jadi merupakan tantangan. Apalagi, menjamurnya klub-klub pencinta alam di Indonesia, kurun waktu belakangan ini, manambah referensi untuk para pemula, menjadi semacam magnet untuk memacu adrenalin. Belum lagi maraknya film dokumenter dan film layar lebar lainnya, serta majalah dan buletin-buletin olah raga yang kerap kali menyajikan informasi mengenai dunia pendakian. Serta maraknya kegiatan-kegiatan yang di motori oleh berbagai macam organisasi kepecintaalaman, di tanah air, menjadikan olah raga yang satu ini tidak hanya populer sebagai hoby, malah bisa dijadikan ajang penghidupan.

Menyandang Carrier berbobot kisaran 8-15Kg. Bercelana model cargo yang dikenal dengan celana lapangan dengan berbagai model, sampai hanya mengenakan celana untuk model senam. Berkaos lengan pendek dan gondrong. Kumal dan layaknya seperti orang jarang mandi. Menempatkan penampilan pada urutan kesekian dari konsen hidupnya. Cuek berjalan di keramaian dan merasa senang dengan tantangan. Apalagi penggila olahraga yang boleh di bilang extrim ini, kerap kali mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Untuk sekedar menikmati sisi lain dari keindahan alam ciptaan Tuhan dengan caranya masih-masing. Bertengger di puncak-puncak tertinggi permukaan bumi, menyaksikan terbit dan terbenam matahari dari tempat yang tidak lazim, menghirup udara bersih dengan oksigen tipis dan menyaksikan sendiri keajaiban kawah gunung berapi. Atau menyaksikan sendiri awan putih pada pagi hari yang membuat anda seolah-olah berada diatas awan, untuk kemudian turun dengan manis dan mengisahkan keberanian mereka. Pada sahabat, kerabat dan anak cucunya kelak.

Menjadi seorang pendaki, tentu banyak sekali yang mesti di perhatikan. Banyak pula yang mesti dipelajari. “Hari gini, masih nekat naek gunung, udah nggak jamannya,” begitu kata seorang pendaki yang sempat penulis temui. Dia juga mengisahkan bahwa mendaki, bukan semata-mata menyalurkan hoby, tapi bagaimana mendaki bisa menjadi olah raga jasmani dan ruhani. Kenapa ruhani? Yap! Pertanyaan yang cukup menggelitik. Oke kita kupas satu-satu yah.Keindahan Alam dari Sisi BerbedaApakah kamu pernah membayangkan, berdiri disatu tempat tertinggi, yang disana kamu bisa menyaksikan eloknya matahari terbit di pagi hari. Merasakan belaian lebut awan yang ada di kejauhan, dengan semilir angin berhembus lembut. Sementara sejauh mata memandang hanya ada putihnya awan dan birunya langit? Hamparan kota di kejauhan, serta hijau yang melebihi halusnya permadani terbaik sekalipun? Yap. Mirip negeri diatas awan.

Pernah terfikir duduk sambil melihat sendiri mentari yang perlahan menghilang di cakrawala sore yang manis, menyisakan lembayung keemasan di ufuk barat? Kemudian mengambil foto dengan pemandangan paling spektakuler dari tempat yang tidak semua orang bisa mencapainya? Kebanggaan dan perasaan puas? Pasti! Itulah beberapa deskripsi mengenai keindahan puncak suatu gunung. Meski titp-tiap orang selalu punya pengalaman sendiri, tapi minimal seperti itulah gambaran rata-rata keindahan tiap puncak gunung. “Selalu ada sesuatu yang nggak bisa dideskripsikan. Sensasi yang nggak bisa gua lukiskan dengan kata-kata. Keindahan ciptaan Tuhan yang amat sangat menakjubkan dan masih banyak lagi, pokoknya capenya kebayar deh,” tutur seorang pendaki yang hampir telah mandaki semua gunung di Jawa, Sumatera hingga Lombok.

Lain lagi penuturan seorang perempuan manis berambut panjang, mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jakarta, yang mengungkapkan seolah-olah kita sedang berada sangat dekat dengan Tuhan. Mungkin pengertiannya, dengan mendaki gunung, dia berasa semakin dekat dengan Penciptanya.Boleh jadi macam-macam pendapat orang tentang bagaimana mereka menikmati keindahan tersebut. Karena masing-masing pasti akan mempunyai cerita yang berbeda mengenai perjalanannya. Tapi yang jelas, kebanyakan dari mereka merasa menyaksikan dunia dari sisi yang berbeda. Menyaksikan keindahan ciptaan-Nya dari sudut pandang berbeda, sudut pandang seorang Pendaki.

Standar keamanan dan keselamatan pendaki"Sebelum memulai sebuah pendakian, tentunya kita harus mengetahui hal yang satu ini. Kenapa? Yap! Karena ini menyangkut keselamatan akan diri kita. Menyangkut nyawa kita. Kita pasti tidak akan mau mati konyol di gunung, kan? Karena itu, safety prosedur boleh jadi merupakan kunci penentu dari kelancaran pendakian kita.

Yang dimaksud dengan Standar keamanan dan keselamatan pendaki disini adalah sejauh mana kita bisa mensiasati kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi di gunung. Menyiapkan peralatan pendakian yang akan membantu mempermudah kita dalam sebuah perjalanan. Pada musim hujan dan badai, tentunya akan berbeda dengan musim kemarau. Termasuk didalamnya adalah manajemen perjalanan yang baik. Pemilihan peralatan yang tepat, tanpa perencanaan yang baik juga kadang kala hanya sia-sia. Misalkan saja, kita telah menyiapkan semua peralatan dari mulai tenda hingga peralat pendukun seperti gaiter, tapi kita tidak merencakan pendakian dengan baik, semisal, kita tidak menentukan dimana kita akan bermalam, kapan kita akan istirahat, dan lain sebagainya. Pendakian seperti ini, kadang akan sangat beresiko. Apalagi jika kita mendaki dalam jumlah peserta banyak atau dalam sebuah pendakian massal.

Bagi pendaki pemula, kadang kala tidak memperhatikan hal ini. Padahal jika sebuah pendakian di rencanakan dengan baik, kita akan bisa menikmati tiap tarikan dan letih kita dengan nyaman.Makanan, juga jadi factor penting dalam pendakian. Pemilihan makanan yang bergizi dan berkadar karbohidarat tinggi, juga mutlak di perlukan. Siapa bilang kita cukup hanya memakai makanan instant. Seyogyanya makanan instant hanya sebagai makan pendukung, bukan makanan pokok. Kita bisa menyalurkan hoby memasak, justru pada saat hendak tidur malam. Aneka kreasi makanan bisa kita ciptakan. Jadi, pada saat melakukan perjalanan, makanan bukan seadanya, tapi perlu juga dicermati kadar gizi dan tanggal kadaluarsa, serta jumlah yang sesuai dengan lama perjalanan kita.

Olah Raga Mahal
Kalau ada orang yang bilang mendaki adalah olah raga mahal, jawabannya jelas seratus persen benar. Bayangkan, jika dalam melaksanakan sebuah pendakian kita harus membelanjakan kocek yang tidak bisa di bilang kecil. Kita harus merogoh kantong sedikit lebih dalam ketika menyiapkan peralatan dan perlengkapan untuk pertama kali, minimal carrier 60 liter, sepatu trekking, jaket, balaklava atau kupluk, windstoper, celana lapangan, raingear dan seperngkat peralatan memasak yang direkomendasi anti angin, tenda atau fly sheet. Yap. Jika kita jumlah dalam satu kali menyiapkan peralatan, hitungannya bisa beberapa juta rupiah. Belum lagi untuk materi-materi penunjang yang sifatnya sekunder, sepert senter, gaiter, topi lapangan, kompas dan perlengkapan survival lainnya.

Jadi. Benar kan kalo seandainya banyak yang bilang mendaki adalah olahraga mahal. Itu baru dari segi peralatan. Belum lagi biaya yang di keluarkan untuk sebuah perjalanan atau ekspedisi. Bayangkan jika kamu tinggal di Jakarta, kemudian merencakan pendakian ke gunug-gunung di Jawa Tengah, Jawa Timur atau Lombok. Berapa banyak uang yang akan kita habiskan. Dari catatan penulis sendiri, untuk sekali pendakian ke Jawa Tengah, minimal kita harus merogoh seratus lima puluh ribu rupiah dari pundi-pundi uang yang kita punya. Jika itu hanya untuk transportasi, maka bagaimana dengan perbekalan makanan. Kita harus menyiapkan perbekalan makan dalam konsep yang sangat detail.

Wah repot juga, yah. Tidak juga, kok. Pastinya kita tinggal siapkan segala kebutuhan sesuai dengan lamanya waktu perjalan yang akan kita tempuh. Semakin lama waktu yang di perlukan untuk sebuah perjalan makan kebutuhan konsumsi juga akan semakin besar, dan semakin banyak pula uang yang harus kita belanjakan. So, memang tidak ada salahnya kalau banyak yang bilang, mendaki adalah olah raga mahal.Tapi, buat sebagian orang, jumlah bukan lah hal yang penting. Ibaratnya, ketika kepuasan terengkuh maka berapapun harga akan di bayar.

Persiapan Fisik dan Mental
Sama halnya dengan olah raga outdoor lainnya, mendaki juga memerlukan kesiapan fisik dan mental yang prima. Kedua hal ini, akan sangat membantu jika kita di hadapkan kepada berbagai masalah di lapangan. Menghadapi hujan deras dengan angin kencang yang menerbangkan tenda-tenda, di bawah kilat. Berjalan di padang pasir atau sabana yang entah dimana ujungnya. Menanjak di terjalnya medan, dari yang masih bisa dilakukan sambil bendiri, hingga ada yang harus menggunakan tali, sementara beban berat masih menempel di punggung, pastinya bukan pekerjaan mudah. Ego yang sering muncul, menyeruak sendirian dalam alam bawah sadar kita ke permukaan, sehingga emosi sering kali susah di kontrol. Akhirnya, masalah timbul dan menjadi pemicu hubungan antar personal yang bukan tidak mungkin berakibat fata. Hanya orang-orang dengan kesiapan mental baja dan pisik yang prima mampu melewatinya. Berfikir jernih, adalah keharusan.Tekanan demi terkanan dari berbagai aspek, baik itu alam sendiri, maupun aspek sosial, seperti teman seperjalanan dan lainnya, menuntut kesiapan pikiran dan mental yang tangguh.

Mendaki itu Berbahaya
Kita sangat sering mendengar berita tidak menyenangkan tentang dunia pendakian. Beberapa mahasiswa dari Jawa Tengah tewas di gunung Slamet beberapa tahun silam, faktor cuaca penyebabnya. Kita juga masih teringat jelas, meninggalnya seorang pendaki di Gunung Gede, beberapa waktu silam, hingga tewasnya beberapa pelajar di Gunung Salak Jawa Barat. Belum lagi kasus-kasus kematian lainnya yang sangat tidak mungkin di sebutkan secara detail. Menyeramkan, bukan?

Tentunya kita tidak ingin mati konyol di gunung, kan? Jika jawaban kamu, ya, maka safety prosedur diatas mutlak di terapkan. Kecelakaan di gunung, minimal bisa kita tekan seminimal mungkin. Faktor-faktor seperti cuaca, alam, dan medan itu sendiri memang tidak bisa kita elakkan. Tapi dengan pembekalan yang baik dan persiapan yang memadai, kita dapat mengurangi resikonya. Sementara tentunya factor-faktor dari kesalahan manusia nya bisa kita hindari. Menganggap enteng sebuah perjalanan, tentunya sangat tidak bijaksana.

Kadang kala, kecerobohan kecil seperti ini yang membawa maut. Seringnya melakukan pendakian bukan serta merta membuat kita kebal terhadap resiko. Orang yang sangat berpengalaman pun, sangat mungkin terkena cidera, gangguan fisik dan lainnya. Nekat? Tentu saja konyol. Jadi, mendaki bukan hanya hoby, kan? Ada sangat banyak pelajaran tentang kehidupan di ajarkan dari sini. Selain berolah raga, kita tentunya akan bersingungan dengan macam-macam prilaku. Mulai dari teman seperjalanan, sampai pada prilaku alam yang sangat-sangat susah di tebak. Jika kemudian banyak yang menjadi lebih arif karena mendaki, tentunya itulah salah satu hal positif yang kita bisa petik. Tapi jika ada yang semakin brutal dengan vandalisme, minuman keras yang dianggap bisa membantu memulihkan suhu tubuh, padahal itu salah besar. Otak tidak akan berfikir jernih jika mabuk. Jadi mitos itu mesti di hilangkan dari sekarang.Sudah siap mendaki?

Inspirasiku dari SOE HOEK GIE,seorang green ranger,pendaki tangguh..


Antara Soe Hok Gie dan Puncak Mahameru
Apa hubungan antara Soe Hok Gie dan Puncak Mahameru?
Dan apa yang berkaitan antara keduanya?
Soe Hok Gie dan Mahameru adalah dua legenda Indonesia, sedangkan hubungan antara keduanya?
Soe Hok Gie wafat di Mahameru saat melakukan pendakian pada 18 Desember 1969 karena menghirup asap beracun gunung tersebut
Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Dia adalah sosok aktifis yang sangat aktif pada masanya. Sebuah karya catatan hariannya yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman oleh LP3ES diterbitkan pada tahun 1983. Soe Hok Gie tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia dan juga merupakan salah satu pendiri Mapala UI yang salah satu kegiatan terpenting dalam organisasi pecinta alam tersebut adalah mendaki gunung. Gie juga tercatat menjadi pemimpin Mapala UI untuk misi pendakian Gunung Slamet, 3.442m.
Kemudian pada 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI berencana melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676m. Banyak sekali rekan-rekannya yang menanyakan kenapa ingin melakukan misi tersebut. Gie pun menjelaskan kepada rekan-rekannya tesebut :
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Sebelum berangkat, Gie sepertinya mempunyai firasat tentang dirinya dan karena itu dia menuliskan catatannya :
“Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Gie yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), berikut beberapa kisah yang mewarnai tragedi tersebut yang saya kutip dari Intisari :
Suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru. Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, beberapa anggota tim terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan, mereka menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru. Di depan kelihatan Gie sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan.
Dengan tertawa kecil, Gie menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).
Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, mereka menunggu datangnya Herman, Freddy, Gie, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Gie dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, mereka berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Gie, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Gie dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan.
Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta beberapa rekannya untuk menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
“Cek lagi keadaan Gie dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, mereka berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, mereka yakin kalau Gie dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad keduanya sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Gie dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.
Soe Hok Gie telah menjadi salah satu Dewa yang memuncaki Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa.

slideshow

Fotoku

Fotoku
lagi ikut lomba birdwatching

Islamic Web Category

Powered By Blogger