Pada situs diatas rekan-rekan calon pendaki dapat melihat data jumlah kuota yang tersedia per hari pada setiap pintu masuk pendakian ke Gunung Gede Pangrango, untuk booking online calon pendaki dapat mengirimkan email ke booking@gedepangrango.org. Selamat mencoba ya :)
Blog ini berisi data-data pribadiku dan semua hal tentang inspirasiku dalam hidup. Semua rangkaian petualanganku menjelajahi alam bebas, mendaki gunung, travelling, birdwatching kutuliskan dalam blog ini. Harapanku semoga blog ini bermanfaat bagi banyak orang!Amien
Thursday, September 17, 2009
Mau Mendaki Gunung Gede-Pangrango??Silahkan Coba Layanan Booking Online di Situs BBTNGP
Bagi anda rekan-rekan pendaki gunung yang akan mendaki ke Gede-Pangrango silahkan coba layanan booking online untuk pendakian ke kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, selengkapnya klik http://www.bookingonlineoff.byethost32.com/
Sebuah Reportase Perjalanan Detektif Lingkungan Divisi BABM PLH Siklus ITS (Part 3)
REPORTASE HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN BERSEPEDA PLH SIKLUS ITS MENGELILINGI KAWASAN SURABAYA DI HARI LINGKUNGAN HIDUP SE-DUNIA 5 Juli 2009

Sarapan Pagi di Warung Daerah Kenjeran
Sampah - Sampah yang terdapat di bawah Tol Krembangan
Team pengendara sepeda kali ini mengunjungi SPOT terminal peti kemas di daerah Bozem Moro Krembangan. Di sini terdapat beberapa pabrik. Team menemukan bahwa salah satu dari pabrik tersebut, cerobong asapnya mengeluarkan banyak asap hitam pekat. Kami lalu menyelidiki pabrik apakah yang dengan seenaknya membuang banyak asap yang bisa merusak lapisan ozon itu. Sealin itu di wilayah tersebut terdapat beberepa SUTET yang didirikan dan anehnya ada beberapa rumah yang tinggal di are aSUTET itu. Hal ini sangat membahayakan kesehatan para keluarga yang tinggal dekat dengan SUTET karena resikonya akan terkena dampak radiasinya.
Perjalanan yang kami lalui semakin berat karena matahari pada waktu cukup terik dan asap-asap kendaraan tak henti-hentinya meneror kami selama perjalanan. Di daerah industri Kalianak Barat terdapat beberapa ekosistem mangrove yang cukup berperan untuk mereduksi asap-asap dari pencemaran udara yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor maupun pabrik-pabrik di sekitarnya. Di sana kami team detektif lingkungan BABM PLH Siklus ITS menemukan banyak gelondongan kayu besar dengan diameter 1 m dan panjang 10 m di sisi utara jalan. Semoga kayu-kayu ini bukan hasil dari illegal logging dan mempunyai dokumen resmi.
Akhirnya kami tiba di SPOT Jl. Margomulyo, dimana di SPOT ini terdapat banyak sekali kendaraan-kendaraan bermotor seperti truk pengangkut peti kemas dari pelabuhan. Hal itu dapat menimbulkan polusi yang cukup parah. Di sisi barat jalan juga terdapat sebuah pabrik Batu Bara yang cerobong asapnya sedikit mengeluarkan asap namun secara kasat mata tidak tampak beda dengan asap di Pabrik wilayah Moro Krembangan.
Perjalanan terhenti ketika ditemukan fenomena pembakaran sampah di sisi kiri Jalan Margomulyo. Kawasan ini ditumbuhi banyak pohon di sisi kiri dan kanan jalan sehingga tampak asri. Sangat jauh berbeda dengan kawasan di jalan Gresik (Krembangan) – Kalianak yang panas karena tidak ada pohon sebagai peneduh sama sekali.
Jalan Raya Manukan Kulon, sebuah pabrik udang mengeluarkan asap polusi udara. Selain itu juga terdapat limbah cair yang berada di sungai yang berasal dari limbah rumah tangga sehingga airnya berwarna putih susu. Limbah padat yang berasal dari limbah rumah tangga yang ditemui yaitu berupa sampah-sampah yang mengambang (ada di sekitar sungai).
Berhubung waktu sudah mendekati pukul 12.00 dan kami siklusers yang muslim harus melaksanakan kewajiban Sholat Jumat, maka kami berhenti selama kurang lebih 30 menit di Masjid Al-Qohar Jl. Lidah Kulon Surabaya no.1 Barat. Setelah itu merencanakan untuk singgah di rumah Febri (AM 21) untuk beristirahat dan makan siang. Kami kemudian menyusuri kawasan perumahan elit Citra Land untuk mengunjungi salah satu taman yang terdapat patung mirip singapura. Di sana kami mengabadikan beberapa foto untuk dokumentasi. Perjalanan panjang kami pun selesai sudah, kami akhirnya kembali ke ITS melalui JL. Mayjend Sungkono – Jl. Basuki Rahmat – Jl. Gubeng- Jl. Kertajaya dan sampai di ITS tercinta sekitar pukul 17.00 BBWI.
Perjalanan bersepeda keliling Surabaya yang kami lakukan ini mungkin hanya sebagian kecil dalam usaha kami anggota PLH SIKLUS ITS untuk melihat fenomena-fenomena lingkungan apa saja yang terjadi di sekitar kami. Ternyata setelah kami tinjau langsung di lapangan, masih banyak terjadi pencemaran di beberapa tempat di Surabaya, khususnya pencemaran air dan udara. Untuk itu kami mengajak peran serta anda untuk senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan tempat kita berpijak dari hal-hal yang dapat mengakibatkan pencemaran. Jika anda bisa berbuat lebih dari yang kami lakukan, mengapa tidak!!!!

Pada peringatan HLHS kali ini, PLH Siklus ITS khususnya divisi BABM mempunyai agenda kegiatan bersepeda seperti sebelumnya menelusuri fenomena-fenomena lingkungan yang terjadi di daerah Surabaya. Fenomena-fenomena yang kami teliti tak hanya pencemaran udara seperti studi kasus kami terdahulu namun juga fenomena-fenomena pencemaran lingkungan yang lainnya. Rute yang kami tempuh cukup jauh karena akan mengelilingi seluruh bagian Surabaya mulai dari timur, utara, barat, selatan lalu kembali lagi ke Surabaya Timur. Sikluser yang hadir dalam rangka HLHS kali ini cukup banyak dari kegiatan bersepeda sebelumnya yaitu berjumlah 10 Orang yang beranggotakan Rivel, Brain, Zain, Diah, Aji, Anis, Indi, Choirul, Sulis dan Febri. Start dimulai dari Kampus ITS pukul 07.30 menuju Mulyosari kemudian dilanjutkan kearah kawasan Jl. Kenjeran. Pada saat itu lalu lalang kendaraan bermotor sudah cukup banyak dan sedikit menimbulkan kemacetan di kawasan Kenjeran. Tampak beberapa pedagang ikan berjualan ikan hasil tangkapannya di pinggir jalan. Seharusnya pedagang-pedagang tersebut menyadari bahwa ikan-ikan yang dijual di pinggir jalan tersebut tidak baik untuk kesehatan, karena asap-asap kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan mengandung partikel-partikel berbahaya bagai kesehatan manusia jika ikut terkonsumsi. Kami kemudian berhenti disebuah warung di jalan Kenjeran untuk sarapan pagi.
Sarapan Pagi di Warung Daerah KenjeranSetelah selesai mengenyangkan perut kami melanjutkan perjalanan ke arah Jl. Kapasan. Selama perjalanan ke arah Jl. Kapasan kami tidak menemukan fenomena-fenomena lingkungan yang berarti. Masuk ke dalam daerah Pasar Kapasan kami dihadapkan pada Jalur yang searah di daerah menuju Kembang Jepun. Terpaksa kami harus melalui jalur tersebut dengan melawan arus kendaraan yang melaju dari arah barat. Pada sebuah pertigaan jalan menuju Jembatan Merah seorang sikluser (Sulis) hampir tertabrak motor namun untung saja motor tersebut sempat mengerem sehingga tidak ada korban dari kedua belah pihak. ^_^ Perjalanan kami akhirnya sampai di Jl. Gresik di daerah Moro Krembangan. Bersepeda di kawasan ini kami harus ekstra hati-hati karena jalanan sangat padat oleh kendaraan-kendaraan berat (Truk, Tronton, Fuso dll) yang lalu lalang menuju ke arah Pelabuhan maupun ke arah Gresik. Dapat kami simpulkan bahwa di daerah ini tingkat pencemaran udara cukup tinggi dan efeknya membahayakan bagi kesehatan.
Perjalanan terhenti karena team yang melakukan investigasi ”memergoki” adanya penyebab terjadinya pencemaran udara yaitu berada di bawah jembatan tol Krembangan; lebih tepatnya di Jalan Gresik, Bozem Kalianak, Kali Mas dan Barat Bozem Moro Krembangan. Pencemaran di bawah jembatan tersebut berupa penimbunan sampah-sampah organik dan sampah-sampah anorganik, partikulat-partikulat yang dari aktifitas kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di sekitar wilayah tersebut seperti truk-truk besar pengangkut peti kemas.
Perjalanan terhenti karena team yang melakukan investigasi ”memergoki” adanya penyebab terjadinya pencemaran udara yaitu berada di bawah jembatan tol Krembangan; lebih tepatnya di Jalan Gresik, Bozem Kalianak, Kali Mas dan Barat Bozem Moro Krembangan. Pencemaran di bawah jembatan tersebut berupa penimbunan sampah-sampah organik dan sampah-sampah anorganik, partikulat-partikulat yang dari aktifitas kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di sekitar wilayah tersebut seperti truk-truk besar pengangkut peti kemas.
Sampah - Sampah yang terdapat di bawah Tol KrembanganTeam pengendara sepeda kali ini mengunjungi SPOT terminal peti kemas di daerah Bozem Moro Krembangan. Di sini terdapat beberapa pabrik. Team menemukan bahwa salah satu dari pabrik tersebut, cerobong asapnya mengeluarkan banyak asap hitam pekat. Kami lalu menyelidiki pabrik apakah yang dengan seenaknya membuang banyak asap yang bisa merusak lapisan ozon itu. Sealin itu di wilayah tersebut terdapat beberepa SUTET yang didirikan dan anehnya ada beberapa rumah yang tinggal di are aSUTET itu. Hal ini sangat membahayakan kesehatan para keluarga yang tinggal dekat dengan SUTET karena resikonya akan terkena dampak radiasinya.
Perjalanan yang kami lalui semakin berat karena matahari pada waktu cukup terik dan asap-asap kendaraan tak henti-hentinya meneror kami selama perjalanan. Di daerah industri Kalianak Barat terdapat beberapa ekosistem mangrove yang cukup berperan untuk mereduksi asap-asap dari pencemaran udara yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor maupun pabrik-pabrik di sekitarnya. Di sana kami team detektif lingkungan BABM PLH Siklus ITS menemukan banyak gelondongan kayu besar dengan diameter 1 m dan panjang 10 m di sisi utara jalan. Semoga kayu-kayu ini bukan hasil dari illegal logging dan mempunyai dokumen resmi.
Akhirnya kami tiba di SPOT Jl. Margomulyo, dimana di SPOT ini terdapat banyak sekali kendaraan-kendaraan bermotor seperti truk pengangkut peti kemas dari pelabuhan. Hal itu dapat menimbulkan polusi yang cukup parah. Di sisi barat jalan juga terdapat sebuah pabrik Batu Bara yang cerobong asapnya sedikit mengeluarkan asap namun secara kasat mata tidak tampak beda dengan asap di Pabrik wilayah Moro Krembangan.
Perjalanan terhenti ketika ditemukan fenomena pembakaran sampah di sisi kiri Jalan Margomulyo. Kawasan ini ditumbuhi banyak pohon di sisi kiri dan kanan jalan sehingga tampak asri. Sangat jauh berbeda dengan kawasan di jalan Gresik (Krembangan) – Kalianak yang panas karena tidak ada pohon sebagai peneduh sama sekali.
Jalan Raya Manukan Kulon, sebuah pabrik udang mengeluarkan asap polusi udara. Selain itu juga terdapat limbah cair yang berada di sungai yang berasal dari limbah rumah tangga sehingga airnya berwarna putih susu. Limbah padat yang berasal dari limbah rumah tangga yang ditemui yaitu berupa sampah-sampah yang mengambang (ada di sekitar sungai).
Berhubung waktu sudah mendekati pukul 12.00 dan kami siklusers yang muslim harus melaksanakan kewajiban Sholat Jumat, maka kami berhenti selama kurang lebih 30 menit di Masjid Al-Qohar Jl. Lidah Kulon Surabaya no.1 Barat. Setelah itu merencanakan untuk singgah di rumah Febri (AM 21) untuk beristirahat dan makan siang. Kami kemudian menyusuri kawasan perumahan elit Citra Land untuk mengunjungi salah satu taman yang terdapat patung mirip singapura. Di sana kami mengabadikan beberapa foto untuk dokumentasi. Perjalanan panjang kami pun selesai sudah, kami akhirnya kembali ke ITS melalui JL. Mayjend Sungkono – Jl. Basuki Rahmat – Jl. Gubeng- Jl. Kertajaya dan sampai di ITS tercinta sekitar pukul 17.00 BBWI.
Perjalanan bersepeda keliling Surabaya yang kami lakukan ini mungkin hanya sebagian kecil dalam usaha kami anggota PLH SIKLUS ITS untuk melihat fenomena-fenomena lingkungan apa saja yang terjadi di sekitar kami. Ternyata setelah kami tinjau langsung di lapangan, masih banyak terjadi pencemaran di beberapa tempat di Surabaya, khususnya pencemaran air dan udara. Untuk itu kami mengajak peran serta anda untuk senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan tempat kita berpijak dari hal-hal yang dapat mengakibatkan pencemaran. Jika anda bisa berbuat lebih dari yang kami lakukan, mengapa tidak!!!!
Sebuah Reportase Perjalanan Detektif Lingkungan Divisi Bakti Alam Bakti Masyarakat PLH Siklus ITS (Part 2)

Reportase Kegiatan Bersepeda Dalam Mengungkapkan Fenomena-Fenomena Pencemaran UdaraVersi II (21 Mei 2009)
Pemeriksaan kondisi kualitas pencemaran kedua ini dilakukan di kawasan Surabaya Tengah berlangsung pada hari Kamis, 21 Mei 2009 pukul 08.18 WIB. Dilakukan oleh 7 orang, yaitu 4 orang divisi BABM (Bakti Alam Bakti Masyarakat) yakni Brainca, Rivel, Zein, Lusi ;1 orang AM (Anggota Muda) yaitu Yayan; dan 2 orang BPH yakni Dini (selaku ketua umum PLH SIKLUS ITS) dan Ruri (selaku Bendahara Umum PLH SIKLUS ITS). Terjadi keterlambatan selama 18 menit dari rencana awal. Hal ini diakibatkan oleh adanya personel yang datang tidak tepat waktu. Dilakukan penyampaian maksud dan tujuan oleh Brainca, briefing teknis, dan sedikit foto-foto dan berdoa sebelum berangkat hingga menghabiskan waktu selama 10 menit hingga pukul 08.28 WIB. Setelah itu kelima pelaku itupun berangkat.
Tepat pukul 08.28 WIB rombongan ini berangkat menuju persinggahan yang pertama yakni Stasiun Pencemaran Udara. Sesampainya di tempat tersebut (Convention hall, pukul 08.36 WIB) terdapat sedikit perbincangan mengenai alat tersebut. Pertama tentang kegunaan alat tersebut, alat tersebut merupakan alat pendeteksi terjadinya pencemaran udara yang kevalidannya juga dipengaruhi oleh arah mata angin. Hasil pendeteksian tersebut diolah dan menghasilkan indeks pencemaran udara yang dapat dilihat di papan peraga yang ada di pinggir-pinggir jalan.
Dalam satu hari Stasiun Pencemaran Udara mulai beroperasi mulai pukul 15.00 hingga 24 jam kemudian. Sehingga apabila sekarang adalah tanggal 1 Juni 2009 maka hasil pemeriksaan total pada hari ini dapat dilihat besok pada tanggal 2 Juni 2009 pukul 15.00 WIB (Setiap 10 menit sekali Stasiun Pencemaran Udara mengeluarkan hasil pendeteksiannya dan kesimpulan hasil pendeteksian yaitu berupa hasil pemeriksaan total). Pencemaran udara di Daerah Surabaya Pusat dapat dikategorikan ke dalam pencemran sedang, artinya tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia maupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitive dan nilai estetika.
Jika dibandingkan dengan kondisi pencemaran udara di Jakarta, maka kita boleh tenang dengan kondisi pencemaran di Surabaya. Kondisi pencemaran udara di Jakarta sungguh-sungguh tragis. Bayangkan dalam waktu 1 bulan, tingkat pencemaran sedang hanya terjadi dalam waktu 2 hari saja, selainnya tingkat pencemarannya termasuk dalam kategori tidak sehat. Namun jangan terlena akan hal tersebut karena bila tidak dilakukan langkah intensif maka kondisi di Surabaya akan menyerupai kondisi di Jakarta bahkan bisa jadi lebih parah atau mungkin saja saat ini kondisi riil-nya memang telah terjadi pencemaran udara yang sangat namun tidak terdeteksi oleh ISPU (karena selama melakukan pengamatan di beberapa titik selalu menghasilkan indeks yang sama, sehingga ada kemungkinan alat itu rusak) karena sudah terdapat indikator adanya polusi yang sangat di Jawa timur ini khususnya Surabaya yaitu adanya kenaikan suhu sekitar 1,5 derajat celcius dari 34,5 derajat celcius hingga 36,4 derajat celcius. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian ulang terhadap polusi udara di Jawa Timur khususnya Surabaya sebagai salah satu kota metropolitan (melalui study banding tentang kelayakan alat ini karena dari hasil pengamatan itu saja sudah dapat dipergunakan untuk menilai kinerja suatu kota dalam menjaga kelestarian lingkungannya).
Padahal kenaikan 1 derajat celcius tersebut melebihi angka kenaikan suhu udara tertinggi di dunia yang hanya mencapai 0,3 derajat celcius. Sehingga dapat dikatakan upaya pengendalian pencemaran udara sekarang ini sudah tak bisa ditawar lagi. “Obrolan” dilakukan hingga pukul 08.47 WIB dan dilanjutkan dengan melakukan perjalanan hingga ke Hotel Sahid. Selama diperjalanan ditemukan adanya renovasi jalan, pengerukan sungai, pembetulan bibir sungai (partikulat yang ada sudah basah terkenan air sungai) -> dekat RSJ Menur. Setelah itu menuju ke Papan Peraga yang berada di depan patung Airlangga (di perempatan Kertajaya). Terdapat beberapa taman yang sudah kami lewati, misalnya saja di pertigaan dari arah Kertajaya menuju jalan pulau-pulau dan bekas pom bensin yang lokasinya dekat MAZDA.
Taman-taman kota itu merupakan penyaring udara kotor di sekitar kawasan lokasi taman itu. Pada pukul 10.05 WIB hingga pukul 10.20 WIB peserta berada di atas jembatan, proyek (depan DELTA Plaza Surabaya), yaitu tepatnya PT. Investindo. Sebuah proyek pembangunan gedung (serupa itu) merupakan penyumbang partikulat yang cukup besar. Pada pukul 10.20 kami tiba di perempatan (pertemuan antara Jalan Pemuda, Jalan Gubernur Suryo, dll), yaitu tepatnya di GRANADA. Selama disana kami menemui aktivitas kendaraan yang sangat padat. Kami berada disana hingga pukul 10.27 WIB. Kami melanjutkan perjalanan ke Tugu Pahlawan. Kami mengambil banyak gambar selama perjalanan, seperti asap tebal yang ditimbulkan oleh penjual sate di Jalan Walikota Mustajab (10.27-10.36 WIB), Knalpot yang berada di atap restaurant di Jalan Pahlawan (mengeluarkan asap) pada pukul 11.06 WIB. Pada pukul 11.17 WIB kami sampai di depan Tugu Pahlawan (perempatan). Di tempat ini kami menemui aktivitas kendaraan yang sangat padat. Menuju ke tempat berikutnya, yaitu ke daerah Kupang. Kami melewati bangunan depan POLRES. Di tempat itu banyak sekali debu-debu bertebaran yang mengganggu para pengguna jalan. Melewati perempatan Embong Malang-Blauran-Tidar-Pasar Kembang (istirahat dari pukul 11.59-12.22 WIB). Pada Pukul 12.22-12.37 WIB berangkat masjid Samsul Huda (lewat Pasar Kembang).
Perjalanan kami selanjutnya yaitu menuju Jalan Kupang, kembali lagi ditemui aktivitas pembakaran (pembakaran terhadap sampah apapun sebenarnya tidak boleh dilakukan, karena sampah apapun seharusnya ditanam) -> 12.53-14.02. Sebentar saja kami berada di Jalan Kupang, kami, langsung melanjutkan perjalanan ke Jalan Pandigeling 169 (Castrol Dinimotor) disana ada satu pegawai mencoba gas dari salah satu sepeda motor hingga di sekitar tempat itu dipenuhi oleh asap kendaraan hitam yang pekat. Namun peserta dari kami yang bersisa 3 orang (Brain, Zein, Lusi) -> yang lainnya pulang ketika di GRANADA (Dini & Ruri) dan di Masjid Samsul Huda (Yayan). Pada pukul 13.14-13.20 WIB kami berangkat menuju Plaza BRI. Kami berada disana hingga pukul 13.28. Lanjut untuk perjalanan pulang. Waktu perjalanan pulang kita menemui dilakukannya pembakaran setumpuk sampah di plengsengsengan kali dekat Daerah Keputran.
Letak statiun stasiun pendeteksi pencemaran udara :
1. Taman Prestasi
2. Perak Timur
3. Gayungan
4. Convention Hall
5. Sukomanunggal
Letak statiun stasiun pendeteksi pencemaran udara :
1. Taman Prestasi
2. Perak Timur
3. Gayungan
4. Convention Hall
5. Sukomanunggal
Wednesday, September 16, 2009
Sebuah Reportase Perjalanan Detektif Lingkungan Divisi BABM PLH Siklus ITS (Part 1)
Reportase kegiatan merupakan salah satu penulisan ilmiah dalam bentuk deskriptif hasil observasi suatu kegiatan. Cara yang diperoleh untuk mendapatkan data adalah dengan mengamati suatu fenomena (melihat, mendengar, merasa, menghirup ataupun bentuk pengamatan lain dengan menggunakan alat indera) serta mendokumentasikan lewat gambar, tulisan, video dan lain-lain. Intinya adalah peneliti just menghimpun fakta-fakta atau informasi-informasi tanpa melakukan pengujian-pengujian ataupun analisis hubungan. Sehingga bentuk penyampaian informasi yang digunakan berupa deskripsi hasil pengamatan (cerita ulang). Data yang diperoleh adalah data kualitatif (tidak berupa angka). Salah satu contoh penelitian yang laporannya menggunakan reportase yaitu mengungkapkan fenomena-fenomena pencemaran udara di wilayah Surabaya Timur. Misalnya saja mengungkapkan fenomena-fenomena tersebut dengan mengadakan suatu kegiatan kecil seperti bersepeda dengan memotret “fenomena pencemaran udara” seperti kegiatan yang telah dilakukan divisi BABM PLH SIKLUS ITS pada tanggal 5 April 2009 yang lalu. Berikut ini adalah hasil reportase kegiatan yang telah dilakukan.
Reportase Kegiatan Bersepeda Dalam Mengungkapkan Fenomena-Fenomena Pencemaran Udara
Reportase Kegiatan Bersepeda Dalam Mengungkapkan Fenomena-Fenomena Pencemaran Udara
Kegiatan pemeriksaan kondisi kualitas pencemaran di kawasan Surabaya Timur ini berlangsung pada hari Minggu, 5 April 2009 pukul 08.40 WIB. Dilakukan oleh 5 orang, yaitu 4 orang divisi BABM (Bakti Alam Bakti Masyarakat) yakni Brainca, Rivel, Zein, Lusi dan 1 orang AM (Anggota Muda) yaitu Sari. Terjadi keterlambatan selama 1 jam 40 menit dari rencana awal. Hal ini diakibatkan oleh adanya personel yang datang tidak tepat waktu, jumlah sepeda kurang dan tidak layak pakai (sehingga perlu dilakukan perbaikan), serta mencari kamera (tidak bertemu divisi logistik, tidak sempat bilang pada pihak yang bersangkutan, hingga kamera SIKLUS tidak bisa dipinjamkan). Dilakukan perpersiapan, briefing, foto-foto dan berdoa sebelum berangkat hingga menghabiskan waktu selama 10 menit hingga pukul 08.50 WIB. Setelah itu kelima pelaku itupun berangkat.
Hal yang telah ditemui selama perjalanan yaitu kondisi jalan raya sepi dari kendaraan, khususnya kendaraan bermotor (tidak seperti biasa / hari aktif). Sehingga polusi udara yang ditimbulkan tidak separah parah.
Fenomena lain yang ditemui yaitu adanya pembakaran sampah oleh salah satu warga di Jalan Kenjeran. Pembakaran pada sampah adalah salah satu penyumbang polusi udara, hal itu disebabkan oleh adanya partikulat-partikulat hasil pembakaran. Partikulat-partikulat yang dihasilkan tersebut bertebaran di jalan dan mengganggu pernapasan serta pengelihatan pengguna jalan. Suatu hal yang menarik lagi di jalan Kenjeran adalah adanya segerombolan manusia yang ternyata adalah massa dari caleg (calon legeslatif) partai PDIP. Pada waktu kami melewatinya, mereka masih stand by ditempat itu untuk mendapatkan sembako. Namun diduga mereka juga melakukan aksi kampanye karena mereka membawa banyak kendaraan serti pick up satpol PP, mobil, motor, becak, sepeda, dan lain-lain. Sehingga diduga kegiatan kampanye tersebut juga turut menyumbang pencemaran udara yang terjadi di Surabaya. Selama perjalanan dari ITS ke etape 1 (belokan dari arah Kenjeran ke Putro Agung) tidak ditemukan adanya polusi udara yang diakibatkan oleh industri, seperti ruko, toko, pabrik, dan lain-lain. Semuanya tutup karena hari libur. Adapun kendaraan yang ditemui selama perjalanan yaitu mobil, bemo, motor, truk, pick up, becak, sepeda, “kereta kelinci”.
Pada etape 1, kami mewawancarai seorang tukang kunci di pinggir jalan Putro Agung (belokan dari Jalan Kenjeran ke Putro Agung). Beliau bernama Suprapto. Keseharian Beliau adalah “nongkrong” disana (selain tempat mencari nafkah, tempat tinggalnya juga berada di sekitar lokasi tempat kami melakukan observasi). Beliau mengatakan bahwa Beliau sebenarnya tidak betah dengan asap kendaraan bermotor di sana (tempat Beliau kerja). Hanya karena tuntutan kehidupan, Beliau masih bertahan. Perjalanan menuju etape 2 dimulai pada pukul 10.17 WIB. Sepuluh menit setelah perjalanan dimulai, kami menemukan asap hitam mengepul di udara. Setelah ditelusuri, ternyata asap hitam tersebut berasal dari produksi pabrik tahu di Jalan Karang Asem (kalau tidak nomor 6 ya 7). Kami singgah di pabrik tersebut pada pukul 10.27 WIB. Kamera kami tidak bisa memotret dengan jelas karena letak kami ke cerobong tersebut jauh. Namun jika dilihat dengan “mata telanjang” terlihat sangat jelas. Secara berkala selang kurang lebih satu menit, asap yang keluar putih-hitam-tidak berasap. Siklus tersebut terjadi secara berulang-ulang. Pabrik tersebut berproduksi setiap hari kecuali hari lebaran. Sehingga pabrik tersebut juga dikatakan penyuplai pencemaran di udara.
.
Perjalanan berlanjut menuju etape 2 . Tepat 8 menit setelah perjalanan (sekitar pukul 10.36 WIB) di sebrang jalan Bronggalan 28 (pinggir sungai) ada orang yang membakar sampah. Perlu diketahui, sampah itu sebenarnya tidak sehat jika dibakar, karena asap yang ditimbulkannya merupakan salah satu bentuk polusi. Segala bentuk sampah seharusnya dikubur.
Pada pukul 10.47 WIB tepat di perempatan antara Fakultas Kedokteran UNAIR dan Rumah Sakit Husada Utama, kami menemui jalan yang relatif kecil tersebut padat karena adanya kampanye Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Otomatis asap kendaraan juga mengepul. Pembangunan di Fakultas Kedokteran menambah debu dan polutan lain.
Terdapat 4 pilar besar Di RS Husada Utama (yang nampak dari tempat kami istirahat). Salah satu diantaranya terlihat kusam, diduga disebabkan oleh adanya polusi udara. Ada 1 pilar lagi yang kondisinya parah, berkarat akibat proses korosi.
Kami sempat melakukan perhitungan terhadap jumlah kendaraan yang lewat di depan kami singgah. Selama 3 menit kami mengawasi, terdapat 21 mobil dan 143 motor (terlepas dari keterbatasan kami dalam menghitung jumlah kendaraan). Pemeriksaan itu hanya dari satu sisi perempatan dan hanya dalam waktu 3 menit. Bagaimana jika fenomena serupa di selurus Surabaya dan terjadi berulang-ulang setiap hari ? Apakah yang akan terjadi ?Pukul 11.00WIB tepat perjalanan menuju etape 3 dimulai. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke etape 3 dari etape 2. Adapun letak etape 3 yaitu di jalan Dharmawangsa (perempatan Kertajaya). Tujuan kami kesini yaitu untuk melihat hasil up date dari pemeriksaan pencemaran udara di Surabaya Timur (ISPU, Indeks Standar Pencemaran Udara), karena alat yang digunakan untuk mengetahui hasil dari pencemaran yang ada di Surabaya Timur hanya ada di sini, depan pom bensin. Sedangkan alat untuk mengidentifikasi pencemaran udara berada di jalan Arief Rahman Hakim. Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan tersebut adalah pencemaran yang terjadi di wilayah Surabaya Timur adalah pencemaran tingkat sedang.
Tepat di pertigaan sebrang cafĂ© glass jalan Ngagel Jaya, kami berhenti sejenak untuk melakukan observasi. Hari sudah siang sehingga suasana juga mulai panas, kendaraan juga sudah semakin padat di jalan-jalan, sangat ramai. Kondisi di tempat kami melakukan “inspeksi mendadak tersebut” terlihat banyak sampah berkeliaran dan tembok-tembok mengelupas. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan tembok mengelupas adalah karena adanya pencemaran udara.
Pada etape 5 yaitu sekitar pukul 11.53 WIB, ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Hari dimana kami melakukan observasi, suasana sepi (jika dibandingkan dengan hari aktif). Tapi tidak mengurangi rasa panas para pengguna jalan. Kami berhenti di sebelah kebun bibit. Tercium bau yang sangat tidak enak menyengat ke hidung kami. Ternyata air kubangan bercampur lumpur yang tidak jelas darimana asalanya.
Ada beberapa info yang diperoleh dari pedagang sekitar kebun bibit mengenai kepemilikan kebun bibit tersebut yang secara tidak langsung berpeluang untuk memberikan pengaruh negatif terhadap lingkugan dalam jangka waktu beberapa periode ke depan. Ternyata kebun bibit tersebut telah menjadi milik swasta dari beberapa bulan yang lalu (kurang lebih 3 bulan yang lalu). Kebun bibit merupakan barrier. Barrier merupakan istilah untuk penyangga polutan supaya tereduksi, terutama yang berasal dari asap pabrik. Dengan kata lain Kebun bibit merupakan salah satu penyaring udara di Surabaya Timur. Lha pertanyaannya sekarang adalah apakah hal itu tetap berjalan sebagaimana mestinya ? Syukur-syukur kalau sang pemiliknya adalah pemerhati lingkungan, bagaimana kalau bukan ? Apa yang akan terjadi ? Bagaiaman kalau beberapa tahun yang akan datang daerah tersebut dijadikan ruko atau apa saja yang ujung-ujungnya berorientasi pada provit tanpa memperhatikan aspek lingkungan ?
Perempatan Panjang Jiwo pukul 13.43 WIB, sangat panas sekali karena jumlah pohon sangat sedikit sekali, sudah sedikit tidak rimbun pula. Ditambah lagi aktifitas transportasi yang padat, hingga mengakibatkan Surabaya menjadi panas. Perlu diingat bahwa alam juga mempunyai keterbatasan dalam mengimbangi polusi yang terjadi. Mungkin sekarang belum terasa dampaknya. Tapi siapa yang berani menjamin apa yang terjadi satu tahun ke depan, dua tahun ke depan, atau beberapa tahun ke depan ? Penyumbang terbesar kerusakan atau semakin lebarnya lubang ozon adalah pencemaran udara. Sehingga jangan sampai kota Surabaya ini turut menjadi penyumbang kerusakan terbesar tersebut.
Sekedar wacana saja, tentang kondisi sungai yang ada di sana. Ternyata sungai yang ada di sana sungai yang lebar. Sungai tersebut diplengseng, tidak ada sempadan sungainya. Padahal seharusnya sungai harus diberi jarak selebar 5 m di kanan dan kiri sungai yang ditumbuhi tumbuhan. Sedangkan disana gersang. Tidak ada tanaman, hanya terdapat gundukan batu kerikil. Jalan Raya Kali Rungkut pukul 13.55 WIB di depan proyek bp Green Contractor. Para peneliti juga masih bingung itu proyek apa, kami juga kesulitan untuk bertanya karena di sekitar proyek tidak ada orang yang berkeliaran, yang mungkin bisa untuk ditanyai. Sebuah proyek bangunan, apapun bentuknya, sangatlah menarik bagi para peneliti pencemaran udara karena proyek pembangunan sebuah bangunan berpotensi sangat besar menjadi penyumbang partikulat di udara.
Perjalanan menuju titik terakhir dari serangkaian perjalanan dimulai. Selama perjalanan kami disesakkan oleh asap pembakaran. Penglihatan kami juga terganggu oleh adanya debu-debu yang bertebaran kemana-mana. Setelah dilakukan pencarian penyebab dari pembakaran tersebut, ternyata asap tersebut berasal dari salah satu pabrik yang ada di Kali Rungkut. Ketika kami akan mengambil gambar, ternyata petugas keamanan dari pabrik tersebut menghalangi kami dalam mengambil gambar. Mungkin mereka takut kesalahan mereka di expose. Apakah kalian tahu apa kesalahan mereka ?
Kesalahan mereka adalah telah membakar sampah. Sampah tidak boleh dibakar, apapun bentuknya. Sampah hanya boleh dikubur bukan dibakar. Terlebih untuk taraf pabrik (skala besar). Oleh Karena itu, para petugas keamanan PT. "K" tidak segan berkata kasar (agak membentak) agar kami segera pergi tanpa memotret fenomena tersebut (agar tidak ada bukti adanya peristiwa tersebut). Adapun potret yang kami peroleh kami ambil dari sebrang jalan ketika kondisi jalan sepi oleh kendaraan. Pada titik perhentian yang terakhir pukul 14.15 WIB yaitu di pertigaan jalan Rungkut Kidul, ditemui bahwa alur lalu lintasnya agak sedikit “semrawut”, debu dan asap kendaraan dimana serta pohon pun “terbatas”. Sehingga menambah panasnya suasana.
Setelah kami mendapatkan hasil yang diinginkan tersebut, kami kembali menuju Institut Teknologi Sepuluh Nopember untuk merencanakan pengumpulan data, membuat reportase kegiatan dengan ending menyerahkan hasil serangkaian acara tersebut ke divisi HUMAS (Hubungan Masyarakat).
Sunday, September 6, 2009
Taman Nasional Komodo Melaju ke Babak Final - 7 Keajaiban Alam Dunia

Menjadi sebuah kebanggaan bagi bangsa Indonesia ketika Taman Nasional Komodo (TNK) berhasil menjadi salah satu finalis Kampanye "New 7 Wonders of Nature". TNK dinilai berhak melaju ke tahap final setelah menyisihkan kurang lebih 440 nominasi dari 220 negara.
"Pada tanggal 21 Juli 2009 pukul 12.07 GMT (19.07 WIB), New 7 Wonders Foundation telah mengumumkan TNK sebagai salah satu dari 28 finalis yang berhak untuk melanjutkan ke tahap final (Tahap III)," bunyi rilis Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang diterima detikcom, Rabu (22/7/2009).
Masyarakat Indonesia diharapkan memberi dukungan sebanyak mungkin agar Taman Nasional Komodo di Flores, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
"Mengajak seluruh masyarakat Indonesia dan dunia untuk berpartisipasi aktif melakukan pemilihan, agar terpilih sebagai salah satu dari 'Tujuh Keajaiban Dunia bernuansa Alam' yang akan ditentukan pada tahun 2011," begitu bunyi seruan tersebut.
Ayo tunggu apa lagi, sekarang saatnya melakukan sesuatu yang nyata untuk mengharumkan nama negeri ini dan menunjukan pada dunia Indonesia kita yang sebenarnya.
Bagi anda yang akan memilih dapat melakukan dengan dua cara, Pertama memilih dengan cara online melalui website http://www.new7wonders.com. Kedua, memilih melalui telephone (SLI) dengan menekan +41 77 312 4041. Setelah pesan selesai dan terdengar bunyi beep tekan kode 7717 untuk memilih Taman Nasional Komodo.
Dukung Taman Nasional Komodo.. Dukung Indonesia-mu.!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
slideshow
Fotoku
lagi ikut lomba birdwatching
