Blog ini berisi data-data pribadiku dan semua hal tentang inspirasiku dalam hidup. Semua rangkaian petualanganku menjelajahi alam bebas, mendaki gunung, travelling, birdwatching kutuliskan dalam blog ini. Harapanku semoga blog ini bermanfaat bagi banyak orang!Amien
Wednesday, January 29, 2014
Petualangan survey tugas akhirku
Pada awalnya aku sempat bingung untuk mencari-cari judul tugas akhir atau skripsi yang cocok sesuai dengan bidangku di Jurusan TekniK Geomatika ITS. Namun akhirnya setelah berkonsultasi dengan beberapa dosen pembimbing aku memilih untuk mengembangkan judul sendiri dengan ide sendiri pula. Sengaja aku memilih Kabupaten Tulungagung sebagai kampung halamanku untuk memberikan pengabdianku sebagai mahasiswa atas apa yang aku peroleh selama duduk di bangku kuliah. Sengaja pula aku memilih wisata alam karena sesuai dengan hobiku yang suka menjelajah alam. :) Alhamdulillah aku dapat pembimbing yang tepat yaitu Bapak Dr. Ir. Muhammad Taufik. Beliau dengan sabar dan disiplin membimbing tugas akhirku hingga semuanya selesai tepat waktu. Selain itu ada seorang dosen lainnya yang SMA-nya dulu dari di Tulungagung yang membantu mengarahkan dan membimbingku yaitu Bapak Agung Budi Cahyono. Dengan rasa tulus kuucapkan terimakasihku kepadamu Bapak-Bapak Dosen yang terhormat, terimakasih atas arahan, bimbingan dan supportnya. :)
Akhirnya setelah sidang proposal, judul tugas akhirku telah disetujui dengan sedikit perubahan yaitu "Pengembangan Potensi Wisata Alam Kabupaen Tulungagung dengan Sistem Informasi Geografis". Setelah itu aku langsung mengurus perijinan untuk survey penelitian di Baskesbanglinmas Kabupaten Tulungagung. Surat ijin pun aku dapat pada tanggal 11 maret 2010 dan setelah itu aku langsung mensurvey tempat-tempat wisata alam yang ada di Tulungagung. Tujuanku pertama adalah mengunjungi sang primadona wisata waduk terbesar se-Asia Tenggara yaitu Waduk Wonorejo.Setelah itu aku pergi ke pantai-pantai yang cantik di sebelah selatan Tulungagung.Di sini aku tak hanya mendokumentasikan saja obyek-obyek wisata itu namun aku juga mencari titik koordinatnya dengan menggunakan GPS untuk dipetakan sebaran obyeknya. Di samping itu aku juga mewancarai penduduk setempat dan menyebarkan kuesioner untuk menganalisa sejauh mana potensi dan daya tarik obyek wisata tersebut.
Aku mendedikasikan hasil tugas akhir ini untuk semua masyarakat Tulungagung. Dengan harapan bahwa nantinya karyaku ini dapat bermanfaat untuk mempromosikan tempat-tempat wisata Tulungagung yang eksotis ke khalayak umum.Selain itu juga dapat dimanfaatkan terutama oleh kalangan pelajar dan mahasiswa yang akan melakukan penelitian tentang pariwisata Tulungagung. Perjalananku menyusun Tugas Akhir ini kuawali kurang lebih 5 bulan dari mulai Bulan Maret sampai dengan Juni 2010. Aku ber"solo backpacking" menjelajahi berbagai tempat-tempat yang indah di bumi Ingandaya Tulungagung. Awalnya aku agak khawatir untuk melakukan solo backpacking atau solo travelling, namun dengan berbagai pertimbangan diriku akhirnya berangkat juga demi menunaikan tugas besar dan misi untuk melakukan riset dan penelitian untuk menganalisa tingkat potensi berbagai obyek-obyek wisata alam yang terdapat di Kota Marmer ini. Sudah banyak pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan yang aku alami. Mulai dari menginap di rumah penduduk setempat, terjebak banjir besar, jatuh terpeleset dari motor, ketemu biawak besar dan ular berbisa, kesasar di perjalanan sampai melihat berbagai pemandangan yang indah menakjubkan. Aku menyadari bahwa tugas yang kuemban ini tidaklah mudah, banyak pengorbanan dan perjuangan berat yang harus kulakukan namun itu semua kujalani dengan hati yang ikhlas dan sabar. Aku menyadari bahwa harus berusaha secara maksimal agar hasil karyaku nanti juga maksimal dan dapat bermanfaat. Dan inilah sekelumit kisah petualanganku yang tak terlupakan dalam rangka survey penelitian tugas akhir.
Menginap di dusun terpencil, Dusun Mina Klathak Desa Keboireng Kecamatan Besuki.
Salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah pada saat diriku mensurvey Pantai Klathak. Pantai ini terletak di Desa Keboireng Kecamatan Besuki. Untuk menuju pantai ini tidaklah mudah, banyak perjuangan berat yang harus kutempuh dan kuhadapi. Pukul 15.00 WIB aku berangkat dari rumah menuju ke arah selatan Kabupaten Tulungagung. Rumahku terletak di Kepatihan yang berada di tengah jantung kota.Jarak dari rumah adalah sekitar 35 Km menuju ke pantai tersebut.Di tengah perjalanan masuk Kecamatan Boyolangu aku diguyur hujan deras. Tasku yang berisi laptop dan GPS terancam terkena air. Aku akhirnya membungkus rapat-rapat dengan plastik besar yang kubeli dari toko di pinggir jalan. kemudian menutup tas dengan cover daypack dan mantel yang kukenakan. Rintangan selanjutnya adalah ketika aku telah sampai di jalan makadam Desa Keboireng. Jalan ini cukup sulit dilalui oleh kendaraan bermotor karena hujan membuatnya becek dan licin serta naik turun bukit. Jalan makadam ini nantinya akan menghubungkan dengan Jalur Pantai Selatan (JLS) yang sudah dibuka, namun belum diaspal. Jadi bisa dibayangkan jalan selebar 6 sampai 8 meter yang berupa tanah becek berkelok-kelok menembus hutan serta naik turun bukit sepanjang kurang lebih 5 Km harus kutempuh. Di sinilah rintangan terberatku. Aku harus ekstra hati-hati mengendarai motor agar tak jatuh terpeleset. Namun akhirnya beberapa kali aku terjatuh juga.(^_^) Aku bertemu dengan bapak petugas PLN yang mobilnya terjebak lumpur di tengah jalan. Hmm kasihan juga beliau. Beberapa kali aku harus mendorong motorku karena tidak kuat menanjak di jalanan yang penuh lumpur. Alhamdulillah pada pukul 17.00 WIB aku tiba di Dusun Klathak yang merupakan dusun terpencil dekat pedalaman hutan. Di kampung ini aku kemudian meminta ijin kepada ketua RT setempat untuk menginap semalam. Namun aku hanya bertemu dengan istrinya yaitu Bu Hasyim, karena Bapak RT sedang pergi Desa Keboireng. Aku akhirnya diijinkan menginap di dusun ini. Motorku kutitipkan di rumah Bu Hasyim. Aku kemudian menginap di sebuah musholla kecil di temani oleh Mas Put yang merupakan takmir musholla tersebut. Malamnya sehabis sholat Isya', aku berbincang banyak dan mencari informasi yang selengkap-lengkapnya mengenai Pantai Klathak dengan Pak Baijuri dan Pak Mairan yang merupakan sesepuh Dusun Klathak.Dari perbincanganku dan Bapak-Bapak itu kusimpulkan bahwa para penduduk di Dusun ini sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah setempat terutama masalah akses jalan dan kesehatan. Aku disini mungkin sebagai penyambung lidah mereka ingin sekaligus menyampaikan aspirasi kepada Bapak-Bapak dari pemerintah kabupaten setempat yang mungkin sedang membaca tulisanku ini bahwa keadaan mereka sangat memprihatinkan. Banyak para penduduk yang terkena penyakit cikungunya. Dan untuk berobat mereka harus menempuh jarak sekitar 10 km ke Puskesmas yang terdapat di Desa Keboireng. Selain itu akses jalan yang sangat buruk juga menghambat mobilisasi mereka ketika berobat ataupun mengantar anak-anaknya yang sekolah ke desa Keboireng yang sangat jauh jaraknya. Bahkan anak-anak mereka rela tidak sekolah jika hujan mengguyur di pagi hari atau jalannya becek. Di samping itu masalah sanitasi para warga juga perlu diperhatikan karena sebagian besar dari mereka tidak punya MCK yang layak. Kebanyakan para warga membuang hajatnya di sungai atau di tepi pantai secara sembarangan. Hal ini tentunya lama kelamaan akan membuat lingkungan menjadi kotor dan tidak nyaman serta membahayakan bagi kesehatan para warga itu sendiri. Tak terasa lama berbincang-bincang membuat kami tak menyadari bahwa malam kian larut. Pak Jubairi dan Pak Mairan lalu pulang kembali ke rumah. Akupun lalu terlelap tidur di musholla kampung yang begitu sunyi tersebut. Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi untuk mengabadikan moment sunrise. Alhamdulillah cuaca cerah dan aku dapat mengabadikan moment indah itu. Pagi yang sangat indah di pantai cantik itu. Cahaya kemilau matahari perlahan menyingsing dari ufuk barat memancarkan hangat sinarnya kepada bumi. Setelah itu aku ditemani dengan Mas Put mengukur jarak panjang dan lebar Pantai Klathak serta mengeplot koordinatnya dengan alat GPS yang ku bawa. Akupun lalu kembali ke rumah Ibu Hasyim untuk berkemas melanjutkan perjalanan ke pantai yang lain. Namun sebelum itu aku disuruh untuk sarapan pagi di rumah Bu RT. Waduh jadi sungkan banget nih. Alhamdulillah pucuk dicinta ulampun tiba. Kebetulan sudah lapar sekali ingin mengisi perut yang sudah keroncongan. Hehe :) Hmm sarapan pagi yang cukup nikmat walaupun dengan menu yang seadanya. Makasih banyak bu Hasyim. Aku harus bersyukur karena diberi pengalaman yang luar biasa di dusun yang banyak memenangkan penghargaan nelayan terbaik ini. Aku kemudian berpamitan kepada Bu Hasyim untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lain walaupun hujan deras tengah mengguyur pada saat itu.
Perjuangan dari Pantai Gemah untuk kembali ke rumah.
Pengalaman lain yang tak kalah berat dan menantang yaitu pada saat aku akan kembali dari mensurvey Pantai Gemah. Pada waktu itu hujan deras sedang mengguyurku. Jalur Lintas Selatan (JLS) menjadi sangat becek berlumpur. Aku harus berjibaku mendorong motor naik turun bukit karena jalan sangat licin dan berbahaya. Beberapa kali motorku terjatuh karena terjebak lumpur. Jalan itu layaknya seperti kubangan lumpur raksasa yang berhasil menjebak diriku. Staminaku makin habis. Pada saat itu tak ada orang lain selain aku di jalur itu. Aku terus mendorong sampai titik batas tenagaku. Namun alhamdulillah dengan dengan segenap perjuangan yang aku kerahkan akhirnya aku bertemu dengan para penduduk yang tengah pulang dari mencari rumput di hutan. Mereka membantu mendorong motorku sampai ke tempat yang aman. Pada saat itu jalur terputus karena ada aliran air yang tengah meluap dari atas bukit yang melintang di tengah jalan menuju ke aliran sungai kecil di bawah. Apabila nekat meneruskan perjalanan akan sangat beresiko sekali karena akan membahayakan jiwa. Bisa-bisa aliran air yang deras itu menghanyutkan aku dan motorku menuju jurang yang ada di bawah. Hiih!! Tanah-tanah yang ada di aliran air di sisi utara banyak yang longsor dibuatnya. Aku menunggu dengan beberapa bapak dan ibu para pencari rumput sampai aliran air itu mereda. Setelah alirannya sudah agak reda, kami memutuskan untuk melewati aliran air itu dengan bergotong royong mendorong motor secara bergantian. Ngeri juga melintasi aliran air itu. Karena masih kudengar suara deras arus air yang menggerojok ke sungai kecil yang ada di bawah. Tapi syukur alhamdulillah aku dan para pencari rumput itu dapat keluar dari rintangan yang berbahaya tersebut. Perjalanan masih belum berakhir. Aku masih berjuang untuk sampai di jalan makadam Desa Keboireng.Sempat beberapa kali motorku terjatuh lagi akibat terpeleset lumpur. Tak beberapa lama kemudian aku sampai di jalan makadam yang pada saat itu menjadi aliran air dadakan sehingga jalannya mirip dengan sungai. Motorku menjadi seperti perahu karet yang tengah bermain di arung jeram. Byuuuuurrrr...aku melintasi aliran air itu dengan menancap gas dalam-dalam sehingga motorku laksana membelah sebuah sungai.Rintangan belum berakhir di sini. Kali Klatak yang membelah Desa Kebo Ireng sedang murka dan memuntahkan airnya sampai ke rumah-rumah penduduk. Beberapa ruas jalan juga terkena imbasnya sehingga air tergenang sampai selutut. Ku lihat Kali Klatak waktu itu berarus sangat deras akibat hujan deras yang sejak siang tadi mengguyur kawasan ini. Mungkin jika dinilai dari grade sungai arung jeram, gradenya dapat mencapai grade yang ketiga!!Karena kelamaan menunggu air yang tak kunjung surut akupun nekat melaju tanpa memperdulikan resiko yang terjadi. Akhirnya...Brum Brummm...Glegek!! Knalpot motorku kemasukan air dan mogok di tengah jalan. Padahal kurang separo lagi aku berhasil melewati jalan yang banjir itu. Akupun lalu mendorong motorku ke tempat yang tidak tergenang air. Untungnya saja beberapa warga menolongku memperbaiki motorku yang mogok.Mereka mengangkat motorku dengan jumping style dan air yang masuk kedalam knalpot seketika langsung mengucur keluar. Setelah itu ku starter motorku dan Brrrumm brumm brummm! Berhasil!!Alhamdulillah..Akhirnya aku dapat kembali pulang ke rumah dengan membawa kisah pengalamanku yang sangat menantang di Desa Keboireng!!
Menyusuri hutan perawan Pantai Sanggar. Kesasar dan bertemu biawak besar!!
Ini adalah perjalanan ke-8 ku menuju Pantai Sanggar. Kali ini berbeda dari sebelumnya karena perjalananku tak ditemani oleh siapa-siapa alias seorang diri!! Aku sengaja sendirian menjelajah ke pantai yang konon sangat angker ini untuk menguji seberapa besar nyaliku. Aku yakin dengan niat yang bersih dan baik semuanya akan baik-baik saja. Rasa takut sesungguhnya dikendalikan oleh pikiran kita sendiri. Bila kita berpikir positif maka semua rasa takut akan bisa kita atasi. Namun kepada teman-teman yang belum pernah ke pantai ini jangan coba-coba pergi kesana seorang diri tanpa guide yang berpengalaman! Don't try this at that place! ok!! (^_^). Singkat cerita, siang itu aku memulai perjalananku dari rumah Pak Bayan Bero pada pukul 13.00 WIB. Aku berpamitan kepada Pak Bero dan Istrinya dan berjanji insyaAllah akan balik pulang kerumah beliau sebelum maghrib. The adventure is begin!Aku menyusuri jalan perkampungan menuju ke jalur Semampir. Jalur yang umum dilewati oleh penduduk sekitar menuju pantai. Sebenarnya ada satu jalur lagi yaitu jalur susur sungai yang menembus hutan perawan menuju ke pantai. Namun dengan alasan keamanan dan resikonya sangat tinggi bila dibanding melalui jalur Semampir, aku akhirnya memilih jalur yang lebih safety. Tak lupa aku menghidupkan track GPS yang kubawa di sepanjang perjalanan. jarak sejauh 1,5 km harus kutempuh dengan jalan kaki menuju jalur semampir dari Rumah Pak Bero. Dan sejauh kurang lebih 2 km jalan yang harus kulewati menuju Pantai Sanggar. Di tengah perjalanan masih di perkampungan aku bertemu seorang bapak yang tinggi besar yang menanyakan akan kemanakah diriku ini. Langsung ku jawab, " Mau ke pantai Pak". Beliau kemudian menimpali,"Hati-hati lo nak, di hutan sana sangat angker, apalagi sampeyan sendiri". Deghhhh tiba-tiba saja jantungku seakan berhenti mendengar jawaban dari bapak itu. Namun aku tidak boleh ciut nyali, karena ini semua demi Tugas Akhirku nanti. Aku terus melangkahkan kaki menuju arah hutan. Sesampainya di perladangan aku menemui jalur bercabang. Namun sepintas kulihat bahwa jalur yang satu merupakan jalur setapak yang rimbun dan lebih kecil daripada jalur setapak yang disebelah kiri. Aku kemudian mengambil keputusan untuk menuju jalur sebelah kiri. Tak kusadari bahwa jalur ini ternyata salah!!!! Seharusnya setelah perladangan jalan setapaknya turun menuju kedalam hutan. Namun jalur yang kulalui malah semakin terjal. Sebelumnya aku melewati sebuah jembatan kayu yang rapuh. Padahal sebelumnya aku tak pernah menjumpai adanya jembatan ini. Denyut jantungku makin cepat, aku mulai panik namun aku berusaha untuk mengontrol hal itu. Aku harus cepat mengambil keputusan karena jam tanganku sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Jalan satu-satunya adalah aku kembali menuju ke perladangan tadi. Dan benar saja setelah aku kembali ke jalur awal, aku menemukan jalur utama menuju Pantai. Sial!!Jalurnya memang tidak kelihatan dan tertutup semak-semak. Aku memburu waktu dengan berjalan setengah berlari di dalam hutan itu. Didalam hutan ini vegetasinya sangatlah tertutup, didominasi oleh pepohonan besar bertipe hutan pantai yang tingginya kurang lebih mencapai 30an meter. Sesampainya di Pohon yang sangat besar tak lupa aku mengucapkan Salam. Assalamualaikum!! dan setelah itu wangi bunga puring semerbak menusuk hidungku. Aku harus tetap fokus dan menenangkan diri. Tidak boleh ngelamun dan positif thingking. Kulihat jalanan mulai datar dan sampailah pada jalur track sungai kering disebelah kananku. Alhamdulillah gelegar ombak Pantai Selatan menyambut kedatanganku di Pantai Ngelur pada pukul 16.00 WIB. Aku menarget sekitar setengah jam untuk memotret objek-objek yang dianggap perlu dan mengetrack panjang pantai menggunakan GPS. Pukul 16.30 aku harus kembali menuju perkampungan sebelum keadaan menjadi gelap gulita. Untuk menuju ke Pantai Sanggar aku harus berjalan lagi sekitar 300 meter melewati sebuah bukit. 10 menit kemudian aku sampai di pantai Sanggar dan bertemu dengan dua orang pemancing. Untung saja aku bertemu dengan mereka, karena pantai ini sangat sepi dan jarang orang mau mengunjungi di kala musim hujan seperti ini. Mereka berdua ternyata sudah dua hari menginap di pantai ini untuk mencari ikan. Wuihh benar-benar pemancing mania sejati!! Jam di HPku sudah menunjukkan setengah lima dan artinya aku sudah harus bergegas meninggalkan pantai ini. Aku menarget paling tidak pukul 17.30 WIB sudah harus sampai di perkampungan. Dengan langkah kaki yang sedikit dipaksakan setengah berlari aku menuju ke jalur semampir menembus lebatnya hutan lebat. Namun tiba-tiba saja...Wuuaaaaaa!! aku berteriak kaget setelah didepanku persis ada seekor biawak (varanus salvator) berukuran besar seperti anak komodo yang tiba-tiba muncul. Mungkin biawak itu juga kaget dengan keberadaanku dan segera berlari menjauh.Sedangkan diriku yang tersentak langsung berlari juga kebelakang. Anjritt!!Bikin jantung serasa copot aja tuh biawak. Untung nggak digigit! Setelah keadaan aman aku segera meneruskan perjalananku menuju ke peradaban karena hari semakin gelap. Hujan rintik-rintik menemani perjalananku menuju ke dusun. Kembali aroma wewangian bunga menggelitik hidungku. Namun aku harus tetap tenang. Sesampainya di Pohon Raksasa itu aku kembali mengucap salam. Ini menandakan bahwa tinggal sedikit lagi perjalananku menuju ke perladangan. Hanya tinggal naik 1 bukit yang terjal kemudian sampai. Alhamdulillah menjelang maghrib aku tiba di perkampungan. Orang-orang kampung terheran-heran melihat diriku yang baru saja datang dari arah pantai. Mereka banyak bertanya kepada diriku kok berani sekali memasuki hutan seorang diri. Malah kemudian aku ditawari untuk singgah sejenak di rumah penduduk. Aku hanya menjawab ringan, yang terpenting niat saya baik Pak, tidak ada maksud apa-apa kesana kecuali untuk penelitian. Aku dengan berat hati menolak tawaran mereka untuk singgah sejenak karena aku sudah berjanji akan pulang ke rumah Pak Bero sebelum Maghrib. Aku takut beliau menghawatirkanku dan mencariku. Dengan langkah yang gontai karena kelelahan, aku terus menyusuri jalanan perkampungan kecil itu. Setibanya di sebuah masjid aku singgah sejenak untuk menunaikan sholat maghrib. Setelah itu aku membeli es diwarung untuk melepas dahagaku. Alhamdulillah beberapa menit kemudian aku tiba di rumah Pak Bero. Beliau dari tadi memang sempat cemas menunggu kedatanganku. Takut ada apa-apa atau kesasar di hutan. Pada pukul 19.00 WIB aku berpamitan kepada beliau untuk pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang lagi-lagi hujan sangat deras menerpaku. Aku akhirnya bisa memetik hikmah dari perjalananku ini yaitu bahwa jangan sekali-kali mengambil sebuah resiko besar untuk menjelajah seorang diri jika kamu tidak memiliki wawasan yang luas,pengalaman,nyali besar dan perencanaan yang matang.
Memburu sunrise di Pantai Sine, Pantai Matahari Terbit.
Siang itu Kota Tulungagung diterpa angin kencang dan hujan sangat deras sekali. Namun hal itu tak menyurutkan langkahku untuk menuju Pantai Sine di kawasan Kalidawir dalam rangka proyek penelitian tugas akhirku. Setelah peralatan lengkap dan semua barang sudah terbungkus safety di dalam tas yang tertutup coverbag, aku bersiap menaiki motor TVS kesayanganku untuk segera berangkat. Tak lupa rain coat bermotif tentara milik ayahku kupakai untuk melindungi dari derasnya hujan.Aku berencana untuk menginap semalam di dusun Sine, karena sangat penasaran apakah benar dari pantai ini bisa menyaksikan secara langsung terbitnya matahari. Motorku melaju perlahan di jalan raya yang sedang diguyur hujan deras. Aku harus sangat berhati-hati dan tidak boleh terlalu kencang mengendarainya.Motorku perlahan memasuki desa kalidawir. Beberapa kali aku harus bertanya kepada orang-orang dimanakah jalan akses menuju ke pantai Sine. Hujan deras masih menerpa tubuhku sehingga membuatku menggigil kedinginan. Aku harus kuat!!Walapun badai menerpaku, aku tak akan pernah menyurutkan langkah dan semangatku untuk mencapai tujuan. Motorku kemudian sampai di hutan perbukitan selatan Desa Kalidawir yang berarti sesaat lagi, aku akan tiba di Dusun Sine. Aku melihat ada sebuah bangunan mirip halte di tikungan menurun di sisi kiri jalan. Hmm ternyata itu adalah salah satu spot pengamatan untuk melihat pemandangan matahari terbit. Landskap yang begitu alami terhampar di pelupuk mataku. Deburan ombak pantai sine terlihat begitu dekat. Aku tak sabar untuk segera sampai kesana. Setibanya di perkampungan aku melihat ada sebuah portal dan pos kecil yang tampaknya digunakan untuk membeli tiket masuk ke Pantai ketika hari libur.Karena hujan kembali mengguyur dengan derasnya aku berteduh disana sesaat. Di sebelah pos yang kosong tersebut terdapat sebuah rumah penduduk. Aku memberanikan diri untuk menuju ke rumah itu untuk membagikan quesioner pertamaku di dusun ini.Rumah itu tampak sepi.Aku pun mengetuk pintunya beberapa kali. Dan keluarlah seorang ibu-ibu yang kemudian menyuruhku untuk masuk. Aku memperkenalkan diri dan memberi tahu maksudku untuk datang ke dusun ini. Lalu ibu tadi memanggil suaminya karena ia yang lebih tahu masalah informasi dusun ini. Kami kemudian berbincang bincang mengenai Pantai Sine kurang lebih setengah jam ditemani secangkir teh hangat. Hujan di luar sana masih deras. Aku harus segera mencari masjid terdekat untuk menunaikan sholat Ashar. Akhirnya aku memutuskan untuk berpamitan kepada sang pemilik rumah. Aku segera menancap gas untuk pergi menuju ke kampung Sine yang terletak di pinggir pantai. Aku lalu menemukan sebuah masjid dan singgah sejenak untuk menunaikan sholat ashar. Jam di Handphone ku sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aku harus menemukan rumah Kepala Dusun untuk mengurus ijin menginap di Dusun ini. Setelah berputar-putar mengelilingi kampung aku singgah di sebuah warung yang terletak di pinggir pantai untuk bertanya dimanakah rumah Bapak Kepala Dusun. Aku disambut dengan sangat ramah oleh bapak dan ibu pemilik warung. Kebetulan aku sangat lapar da aku membeli nasi dan beberapa makanan ringan disana. Aku sekalian membagikan quesioner kepada bapak pemilik warung. Kami mengobrol dengan hangat di malam itu, membicarakan mengenai seluk beluk Pantai Sine dan keadaan masyarakatnya. Sampai akhirnya beliau menawarkan diriku untuk menginap di rumah milik anaknya yang letaknya bersebelahan dengan warung itu. Alhamdulillah aku jadi tidak pusing memikirkan dimana tempat menginap malam ini. Memang pertolongan Allah datang tidak terduga. Aku sangat percaya dimana kita berada ketika kita menunjukkan kebaikan, keramahan dan sikap tulus kepada siapapun maka kebaikan akan datang kepada kita. setelah menunaikan sholat magrib dan isya di rumah bapak tersebut aku langsung menuju rumah bapak Tamiran,beliau adalah kepala dusun sine. sesampainya di rumah pak kadus aku berbincang-bincang kepada beliau mengenai maksud tujuanku datang ke dusun ini. selain itu aku juga memberi form quesioner kepada beliau dan bertanya tentang seluk beluk pantai sine,tentang berapa wisatawan yang datang perhari, fasilitas dan sebagainya. Setelah puas berbincang aku berpamitan kepada Bapak Kadus dan `menuju ke rumah Pak Sugeng untuk menumpang menginap semalam. Aku lalu disuruh oleh beliau untuk menginap di rumah anaknya yang berada tak jauh dari rumah beliau. Aku sebenarnya sangat sungkan namun rasanya tak enak juga menampik tawaran untuk menginap di rumah itu. Yahh daripada menginap di musholla sendirian.hehe..Alhamdulillah malam itu aku tidur dengan pulas, ditemani alunan ombak merdu Pantai Sine. Keesokan paginya aku bangun pukul 05.00 WIB. Seketika aku keluar rumah untuk menyambut udara segar dan mengambil air wudhu. Seusai itu aku menunaikan sholat shubuh dan langsung menuju pantai untuk hunting sunrise. Inilah moment yang aku tunggu. Sunrise! Sebagai Pantai yang mendapat julukan Pantai Matahari Terbit tentunya membuat diriku penasaran. Bagaimana keindahan sunrise disini. Waktu itu menunjukkan pukul 05.15. Aku berjalan santai di atas pasir ke arah utara pantai, sembari menunggu datangnya sunrise. Beberapa pemandangan menarik aku dokumentasikan dalam potret kameraku. Tak lupa aku memetakan koordinat dan garis pantai tersebut melalui gps. Di ufuk timur, secercah cahaya kemilau mulai merangkak naik. Menyembul perlahan dari peraduannya dan memancarkan senyumnya kepadaku. Aku langsung mengabadikan moment indah itu. Subhanallah, memang sunrise yang begitu indah. Tak kalah indahnya ketika menikmati sunrise di pantai-pantai Pulau Bali. Di tengah pantai, aku menemukan seekor ular laut (Lauticoda collubrina). Ular ini sangat berbisa, tingkat bisanya sampai 17 kali mematikan dengan bisa ular cobra. Aku kemudian menyingkirkannya menjauh ke tengah laut. Petualanganku kemudian kuakhiri. Aku sempat singgah di TPI untuk melihat-lihat ikan yang dijual. Lalu aku mengambil motorku dan kembali menuju rumah tercinta.
Thursday, August 26, 2010
Petualangan Survey Tugas Akhirku Bagian Pertama
Akhirnya setelah sidang proposal, judul tugas akhirku telah disetujui dengan sedikit perubahan yaitu "Pengembangan Potensi Wisata Alam Kabupaen Tulungagung dengan Sistem Informasi Geografis". Setelah itu aku langsung mengurus perijinan untuk survey penelitian di Baskesbanglinmas Kabupaten Tulungagung. Surat ijin pun aku dapat pada tanggal 11 maret 2010 dan setelah itu aku langsung mensurvey tempat-tempat wisata alam yang ada di Tulungagung. Tujuanku pertama adalah mengunjungi sang primadona wisata waduk terbesar se-Asia Tenggara yaitu Waduk Wonorejo.Setelah itu aku pergi ke pantai-pantai yang cantik di sebelah selatan Tulungagung.Di sini aku tak hanya mendokumentasikan saja obyek-obyek wisata itu namun aku juga mencari titik koordinatnya dengan menggunakan GPS Navigasi untuk dipetakan sebaran obyeknya. Di samping itu aku juga mewancarai penduduk setempat dan menyebarkan kuesioner untuk menganalisa sejauh mana potensi dan daya tarik obyek wisata tersebut.
Aku mendedikasikan hasil tugas akhir ini untuk semua masyarakat Tulungagung. Dengan harapan bahwa nantinya karyaku ini dapat bermanfaat untuk mempromosikan tempat-tempat wisata Tulungagung yang eksotis ke khalayak umum.Selain itu juga dapat dimanfaatkan terutama oleh kalangan pelajar dan mahasiswa yang akan melakukan penelitian tentang pariwisata Tulungagung. Perjalananku menyusun Tugas Akhir ini kuawali dari mulai Bulan Maret sampai dengan Juni 2010. Aku ber"solo backpacking" menjelajahi berbagai tempat-tempat yang indah di bumi Ingandaya Tulungagung. Awalnya aku agak khawatir untuk melakukan solo backpacking, namun dengan berbagai pertimbangan diriku akhirnya berangkat juga demi menunaikan tugas besar dan misi untuk melakukan riset dan penelitian untuk menganalisa tingkat potensi berbagai obyek-obyek wisata alam yang terdapat di Kota Marmer ini. Sudah banyak pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan yang aku alami. Mulai dari menginap di rumah penduduk setempat, terjebak banjir besar, jatuh terpeleset dari motor, ketemu biawak besar dan ular berbisa, kesasar di perjalanan sampai melihat berbagai pemandangan yang indah menakjubkan. Aku menyadari bahwa tugas yang kuemban ini tidaklah mudah, banyak pengorbanan dan perjuangan berat yang harus kulakukan namun itu semua kujalani dengan hati yang ikhlas dan sabar. Aku menyadari bahwa harus berusaha secara maksimal agar hasil karyaku nanti juga maksimal dan dapat bermanfaat. Dan inilah sekelumit kisah petualanganku yang tak terlupakan dalam rangka survey penelitian tugas akhir.
Menginap di dusun terpencil
Perjuangan dari Pantai Gemah untuk kembali ke rumah.
Pengalaman lain yang tak kalah berat dan menantang yaitu pada saat aku akan kembali dari mensurvey Pantai Gemah. Pada waktu itu hujan deras sedang mengguyurku. Jalur Lintas Selatan (JLS) menjadi sangat becek berlumpur. Aku harus berjibaku mendorong motor naik turun bukit karena jalan sangat licin dan berbahaya. Beberapa kali motorku terjatuh karena terjebak lumpur. Jalan itu layaknya seperti kubangan lumpur raksasa yang berhasil menjebak diriku. Staminaku makin habis. Pada saat itu tak ada orang lain selain aku di jalur itu. Aku terus mendorong sampai titik batas tenagaku. Namun alhamdulillah dengan dengan segenap perjuangan yang aku kerahkan akhirnya aku bertemu dengan para penduduk yang tengah pulang dari mencari rumput di hutan. Mereka membantu mendorong motorku sampai ke tempat yang aman. Pada saat itu jalur terputus karena ada aliran air yang tengah meluap dari atas bukit yang melintang di tengah jalan menuju ke aliran sungai kecil di bawah. Apabila nekat meneruskan perjalanan akan sangat beresiko sekali karena akan membahayakan jiwa. Bisa-bisa aliran air yang deras itu menghanyutkan aku dan motorku menuju jurang yang ada di bawah. Hiih!! Tanah-tanah yang ada di aliran air di sisi utara banyak yang longsor dibuatnya. Aku menunggu dengan beberapa bapak dan ibu para pencari rumput sampai aliran air itu mereda. Setelah alirannya sudah agak reda, kami memutuskan untuk melewati aliran air itu dengan bergotong royong mendorong motor secara bergantian. Ngeri juga melintasi aliran air itu. Karena masih kudengar suara deras arus air yang menggerojok ke sungai kecil yang ada di bawah. Tapi syukur alhamdulillah aku dan para pencari rumput itu dapat keluar dari rintangan yang berbahaya tersebut. Perjalanan masih belum berakhir. Aku masih berjuang untuk sampai di jalan makadam Desa Keboireng.Sempat beberapa kali motorku terjatuh lagi akibat terpeleset lumpur. Tak beberapa lama kemudian aku sampai di jalan makadam yang pada saat itu menjadi aliran air dadakan sehingga jalannya mirip dengan sungai. Motorku menjadi seperti perahu karet yang tengah bermain di arung jeram. Byuuuuurrrr...aku melintasi aliran air itu dengan menancap gas dalam-dalam sehingga motorku laksana membelah sebuah sungai.Rintangan belum berakhir di sini. Kali Klatak yang membelah Desa Kebo Ireng sedang murka dan memuntahkan airnya sampai ke rumah-rumah penduduk. Beberapa ruas jalan juga terkena imbasnya sehingga air tergenang sampai selutut. Ku lihat Kali Klatak waktu itu berarus sangat deras akibat hujan deras yang sejak siang tadi mengguyur kawasan ini. Mungkin jika dinilai dari grade sungai arung jeram, gradenya dapat mencapai grade yang ketiga!!Karena kelamaan menunggu air yang tak kunjung surut akupun nekat melaju tanpa memperdulikan resiko yang terjadi. Akhirnya...Brum Brummm...Glegek!! Knalpot motorku kemasukan air dan mogok di tengah jalan. Padahal kurang separo lagi aku berhasil melewati jalan yang banjir itu. Akupun lalu menuntun motorku ke tempat yang tidak tergenang air. Untungnya saja beberapa warga menolongku memperbaiki motorku yang mogok. Alhamdulillah..Akhirnya aku dapat kembali pulang ke rumah dengan membawa sejuta pengalaman yang sangat menantang di Desa Keboireng!!
ow ya bgi tmn2 yang pengen download file tentang Tugas Akhir ane silahkan klik digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-12512-Paper.pdf & foto2 obyek wisata alam hasil jepretanku bisa diliat disini nih http://www.facebook.com/profile.php?id=100000097727764#!/album.php?aid=245868&id=721012160 dan tentunya jangan lupa add facebook gue dulu gan!! :)
Next Episode (^_^)..Petualangan Survey Tugas Akhirku Bagian Kedua
Monday, March 9, 2009
Survey Ekspedisi Caving dan Rock Climbing di Tulungagung dan Trenggalek
perjalanan di malam hari, naik sepeda motor ke Tulungagung. Kami bertiga (Aku, Brain, & Cheboll) dari PLH
Siklus ITS akan melakukan survey untuk kegiatan penelusuran goa di Kecamatan
Tanggunggunung. Tujuan awal kami adalah menginap di sekretariat Mapala HImalaya
STAIN Tulunggaung dan baru pada keesokan harinya kami berangkat menuju goa
dengan teman-teman Mapala Himalaya.
Minggu 8 Maret 2009
Pukul 02.20 WIB kami telah sampai di base camp Mapala Himalaya dan beberapa
menit kemudian disambut oleh Ketua HImalaya yang bernama mas Jabrik. Setelah itu
kami dipersilahkan untuk beristirahat mengingat kondisi tubuh kami yang lelah karena baru saja melakukan perjalanan jarak jauh selama sekitar 4 jam.
Keesokan harinya pada pukul 10.30 WIB aku bersama teman-teman dari Siklus (2
Orang)dan Himalaya (4 Orang)berangkat menjelajahi sebuah goa vertikal di
Tanggunggunung T.A yang bernama goa
Manten. Goa ini kami tempuh selama kurang lebih 1 jam dari STAIN Tulungagung.
Kemudian sepeda motor kami titipkan di rumah penduduk yang sudah kenal dengan
teman-teman dari Himalaya. Lalu kami berjalan kaki menuju goa yang jaraknya
tidak terlalu jauh dari rumah salah satu penduduk tersebut. Kedalaman vertikal
goa Manten sekitar 20 meter. Goa ini pada tahun 2007 telah dijelajahi oleh team
Expedition Metro TV dan HIKESPI (Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia).
Pertama yang kami lakukan adalah memasang tali anchor pada sebuah pohon diatas
mulut goa dengan simpul 8 ganda. Untuk mencegah terjadinya friksi maka tali
carmantle diberi alas matras dibawahnya. Lalu kami memasang anchor utama pada
sebuah pohon bambu dengan simpul "Playboy"/Kelinci. Kemudian selang padding kami
pasang untuk menghindari friksi ketika repling. Berbekal peralatan yang lengkap
untuk caving kami menuruni goa dengan alat yang dinamakan autostop, dengan
terlebih dahulu memasang full body hardness di tubuh kami. Dan tak ketingggalan
sebuah helm khusus caving beserta headlamp yang menjadi peralatan wajib untuk
melindungi kepala kami dari benturan-benturan atap goa dan sebagai penerangan
sewaktu masuk kedalam goa. Setelah turun di dasar gua(Pitch 1)kami meneruskan
perjalanan masuk kedalam goa dengan menuruni sebuah tebing vertikal 2 meter
dengan menggunakan webbing. Kemudian kami masuk kedalam lagi dan menemukan
ornamen goa yang cukup indah, yang terbentuk dari tetesan2 air. Ternyata di
dalam goa tersebut banyak dihuni kelelawar yang bersarang di atap-atap goa.
Setelah itu kita masuk ke sebuah celah yang cukup sempit dengan cara merayap,
dimana celah itu adalah saluran sumber air yang mengalir dari atas goa. Kami
lalu sampai pada sebuah ruang yang cukup terbuka lebar (Pitch 2) dimana setelah
itu kami harus menuruni goa secara vertikal lagi yang lebih dalam (sekitar 30
meter). Berhubung tali carmantle yang kita bawa tidak mencukupi untuk turun kami
hanya memutuskan cukup sampai pitch 2 saja. Setidaknya untuk turun membutuhkan
tali sepanjang 30m lebih. Kami kemudian naik kembali ke atas goa dengan memakai
alat yang dinamakan Chest Croll dan Jumar.
Setelah puas menikmati goa manten kita pun beralih ke goa lain yang berada tak
jauh dari Goa Manten. Goa itu dinamakan goa Lowo yang berjarak sekitar kurang
lebih 5 Km dari Goa Manten. Goa ini bertipe Horizontal,jadi tidak memerlukan
peralatan2 khusus untuk melakukan SRT (Single Rope Teknik).Perlatan yang
dibutuhkan cukup memakai helm caving, headlamp dan webbing untuk menuruni tebing
goa yang sedikit vertikal. Perjalanan ke Goa Lowo kami tempuh sekitar 20 Menit
dari Goa Manten. Lalu kami sampai pada sebuah jalan setapak diatas empang rawa
yang airnya berwarna kecoklatan. Motor kami kemudian diparkir di samping jalan
setapak tersebut. Mas Cebleh dari Himalaya dengan berbaik hati rela menjadi
penjaga parkir motor kami (hehehe). Kemudian kami menyusuri jalan setapak ke
arah Goa Lowo yang jaraknya kurang lebih 300m dari tempat parkir motor.
Tiba di Mulut Goa kami disuguhkan pemandangan yang eksotik dimana banyak
stalagtit indah mencuat dari langit-langit goa. Namun sesuai dengan namanya goa
ini banyak dihuni oleh kelelawar yang meninggalkan banyak kotoran di dasar goa,
yang membuat bau tak sedap di dalam goa tersebut. Kami kamudian secara perlahan
menyusuri lorong gelap goa Lowo yang cukup luas. Ornamen-ornamen di dalam goa
tak kalah menarik dibandingkan dengan Goa Manten. Namun sayangnya bau kotoran
kelelawar membuat udara di dalam goa semakin pengap dan membuatku agak muntah.Di
dalam goa tersebut banyak rintangan yang harus kami lalui diantaranya merangkak
menyusuri celah lorong kemudian sampai pada sebuah air terjun kecil kami harus
berhati-hati untuk menuruni tebingnya yang licin dengan menggunakan webbing.
Namun setelah itu selang beberapa jarak kemudian, kami memutuskan untuk
menyudahi penelusuran kami. Dikarenakan mengingat kondisi hari kian gelap dan
tepat didepan kami terdapat sebuah rintangan berbahaya yaitu tebing vertikal
curam sedalam 3 meter yang dibawahnya terdapat sebuah kolam air yang berbentuk
lingkaran yang sepintas tampaknya terlihat dalam. Kami pun kembali menuju mulut
goa untuk melihat dunia luar yang lebih terang di luar sana. :P
Senin 9 Maret 2009
Motor-motor kami melaju diatas jalanan becek dan berlumpur untuk mensurvey
tebing Spikul di daerah Watu Limo Trenggalek. Kami beruntung cuaca cukup cerah
untuk melakukan survey kesana. Kami tiba di Tebing Spikul pada pukul 13.00 WIB.
Tebing Spikul atau yang dikenal dengan tebing merdeka merupakan salah satu
tebing berskala nasional yang sering digunakan untuk pemanjatan atlet-atlet
panjat tebing nasional. Pada setiap hari kemerdekaan di bulan Agustus biasanya
tebing ini digunakan untuk pengibaran bendera merah putih raksasa.
]
Kami kemudian memeriksa salah satu jalur pada tebing untuk memastikan kondisi
hanger dan mengitung jumlahnya. Dengan sok banget bergaya Free Climbing ala Dan
Osman (wakakak) aku merayap menuju point hanger pertama. Ternyata point tersebut
digunakan untuk anchor belayer dan titik awal start pemanjatan. Hanger yang
terpasang di tebing tersebut ternyata berjumlah kurang lebih 16 buah sampai dengan
top. Ternyata memanjat tebing tak mudah seperti yang kubayangkan. Kita harus cermat dan jeli memilih jalur dan point pada tebing. Namun jangan coba-coba untuk memanjat dengan tidak menggunakan alat(Free Climbing) karena akibatnya bisa fatal. Memanjat dengan free climbing diperlukan endurance(ketahanan fisik) yang kuat dan pemilihan jalur yang tepat. Jika anda ingin memanjat tebing setidaknya diperlukan latihan intensif dengan teknik runner terlebih dahulu di wall climbing, untuk kemudian kita terapkan di tebing sesungguhnya.
Setelah puas memanjat bouldering di tebing, kami bertiga melajutkan perjalanan untuk kembali ke Tulungagung. Kami berencana singgah di rumahku terlebih dahulu untuk makan dan mandi sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Pahlawan tercinta. [END]
Special Thanks To:
- Mapala Himalaya STAIN TULUNGAGUNG : Thanks atas kerjasamanya yah!!
- Mas Jabrik Selaku Ketum Himalaya: Thanks banget Sob!!
- Mas Cebleh, Besek dan Danang yang telah memandu kami untuk caving di Goa Manten dan Goa Lowo.Thanks Bro!!!Thanks juga atas kopi ijonya!!enak banget lo!!hehe :P
- Mas Bonyok : Thanks atas jamuan makannya :)
- My Mother and Father serta Keluargaku di Tulungagung.
- Serta semua pihak yang telah membantu kami dalam survey ekspedisi caving dan Rock Climbing di Tulungagung dan Trenggalek.
Tuesday, June 5, 2007
Kepalan XIX PLH SIKLUS ITS
PENCINTA LINGKUNGAN HIDUP SIKLUS
SURABAYA
Eksotika Pantai Sanggar
Sejauh mata memandang hanya keindahan alam yang terpampang. Gugusan terumbu karang yang indah membentang, ukiran tebing-tebing karang cadas yang memesona, gelombang ombak yang dahsyat serta rerimbunan sejuk pohon tipe ekosistem pantai yang semuanya memang menyuguhkan eksotisme tersendiri.Asrinya kawasan ini tetap terjaga karena belum terjamah oleh banyak orang.Tak jarang setiap pengunjung yang ke pantai itu menjadi terpukau oleh suasana alami dan sejuta pesonanya. Pantai yang membentang luas dan berpasir putih ini sejujurnya dapat dikatakan sebagai surga alami yang terpendam.
Pantai Sanggar terletak di Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Pantai ini berjarak sekitar kurang lebih 35 km dari pusat kota. Secara geografis pantai ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah selatan. Hal inilah yang menyebabkan ombak di Pantai Sanggar sangatlah besar. Ketinggian ombak ketika pasang bisa mencapai kurang lebih 4 s/d 5 meter. Maka diperlukan kewaspadaan ekstra bila ingin berkunjung kesana karena ombak tidak bisa diduga datangnya dan sewaktu-waktu bisa juga mengancam keselamatan pengunjung.
Di sebelah utara pantai ini berbatasan langsung dengan hutan lindung milik Perhutani. Secara umum vegetasi hutan tersebut sangatlah rapat, terdiri dari berbagai tipe flora yang beraneka-ragam.Hutan di kawasan tersebut berjenis heterogen yang secara umun terdiri dari pohon-pohon berakar gantung yang besar-besar. Namun patut disayangkan bahwa sekarang telah terjadi kerusakan hutan yang signifikan akibat adanya penebangan liar yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat setempat maupun dari perusahaan kayu ilegal yang tidak bertanggung jawab.
Di sebelah timur Pantai yang tak berpenghuni ini berbatasan dengan Pantai Ngelur.Untuk menuju ke pantai Ngelur di butuhkan waktu sekitar 15 menit dari Pantai Sanggar.Antara Pantai Ngelur dengan Pantai Sanggar dibatasi oleh tebing karang cadas yang menjulang tinggi. Pantai Ngelur ini juga merupakan pantai yang masih alami dan mempunyai pemandangan yang indah pula. Lebih ke arah barat lagi terdapat Pantai Ujung Setran yang konon katanya mempunyai legenda ”Pasetran Gondo Mayit” yang berarti tempat penampungan tulang belulang di sebuah gua dekat pantainya. Namun sekarang gua tersebut sudah runtuh dan cerita tentang keangkeran gua dan bukit ”Gondo Mayit”tersebut kini hanyalah tinggal kenangan.
Sebelah barat Pantai Sanggar masih terdapat pantai-pantai yang masih perawan dan jarang dikunjungi antara lain pantai Watu gebang, Pantai Ujung Pakis, pantai Ujung Watu Gladhak, dll. Namun untuk akses menuju kesana sangatlah sulit dan beresiko karena jalur/vegetasi di sana masih sangat rapat dan tidak begitu jelas jalan setapaknya. Secara keseluruhan kawasan Pantai Sanggar memang tak kalah menarik dibandingkan dengan pantai-pantai yang ada di Kabupaten Tulungagung. Pantai ini memang sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan pariwisata. Namun pengembangannya menemui banyak kendala hingga sekarang. Untuk mencapai pantai ini ditempuh melalui perjalanan darat lewat dusun terdekat yaitu Dusun Ngelo, dapat ditempuh kurang lebih sekitar 2 jam (30 menit melewati hutan dan 1,5 jam menyusuri sungainya). Mungkin jalur ini tak terlalu beresiko karena jalan setapak yang ada sudah cukup jelas arahnya. Setelah itu tinggal mengikuti alur sungai yang berkelok-kelok menuju ke Pantai.
Namun dibalik keindahan Pantai Sanggar tersimpan sejuta misteri yang belum terkuak, diantaranya banyak cerita mistis-mistis yang merebak di tengah masyarakat mengenai Pantai Sanggar. Pantangan yang harus dipatuhi pengunjung ketika berada di Pantai Sanggar yaitu dilarang membuang kulit jeruk dan pisang ke air laut, berteriak-teriak, bertepuk-tangan serta memakai wewangian yang terlalu merebak. Hal ini mungkin merupakan suatu tanda jika kita berada di alam bebas sebaiknya berhati – hati, dan mengetahui adat – istiadat daerah setempat.
Di pantai ini juga terdapat gua sarang burung walet yang dulu banyak dieksploitasi masyarakat. Tetapi sekarang masyarakat sudah mulai jarang kesana karena banyak kecelakaan yang menimpa para pencari sarang burung walet sebab letak gua tersebut sangat curam dan berada langsung di tengah-tengah tebing. Untuk menuju ke gua ini cukup sulit karena harus melewati tebing-tebing yang curam dan terjal. Dalam mencari sarang burung walet pada umumnya masyarakat menggunakan cara tradisional yaitu dengan merakit sejumlah bambu-bambu yang di gunakan sebagai pijakan pada tebing-tebing. Cara ini relatif beresiko karena akan membahayakan keselamatan masyarakat itu sendiri.
Untuk base camp tempat menginap, ada dua lokasi yang dapat dipilih para pengunjung dengan menyesuaikan keadaan pasang surut air laut. Jika waktu berkunjung mendekati pertengahan bulan (tanggal 15) maka lokasi yang cocok untuk base camp adalah di bukit sebelah timur. Namun jika sebaliknya maka dapat menginap di pesisir sebelah barat Pantai Sanggar. Di tempat tersebut ada semacam pohon bakau untuk tempat berteduh dan berlindung. Demikianlah sepenggal kisah dari perjalanan yang telah dilakukan oleh Pencinta Lingkungan Hidup Siklus ITS. Tidak ada suatu hal yang lebih bermakna selain memperkenalkan pantai nan indah dan menawan ini kepada khalayak umum. Mudah – mudahan harapan masyarakat Dusun Ngelo atas pengembangan Pantai Sanggar menjadi kawasan pariwisata dapat terealisasi.Pantai Sanggar dan Masyarakat Dusun Ngelo
Analisa yang kami lakukan berkisar tentang hubungan masyarakat di Dusun Ngelo, Kecamatan Tanggunggunung, dengan Pantai Sanggar yang akan kami tuju, beserta keadaan hutan di sekitarnya. Secara khusus hal yang kami analisa dari masyarakat adalah: sejarah yang berhubungan dengan Pantai Sanggar, latar belakang masyarakat, kebudayaan, manfaat Pantai Sanggar, peran serta masyarakat terhadap kelestarian Pantai Sanggar, dan keadaan hutan di sekitarnya.
Rupanya di Pantai Sanggar dan sekitarnya cukup banyak cerita yang beredar. Menurut penduduk banyak hal-hal gaib tentang Pantai Sanggar dan daerah di sekitarnya. Misalnya cerita tentang munculnya raksasa “buto ijo”, lokasi Pantai Sanggar sebagai tempat pertempuran dua orang pendekar , munculnya hantu seorang putri cantik, bahkan adanya tempat pesugihan tak jauh dari sana. Mengenai sejarah Pantai Sanggar sendiri, konon hutan di sekitarnya dulu merupakan tempat penguburan para romusha, budak penjajahan Jepang yang mati. Selain itu ada pula yang berpendapat nama Sanggar berasal dari kata pesanggrahan yang berarti tempat singgah karena zaman dahulu digunakan sebagai tempat singgah oleh para pengembara.
Pendidikan masyarakat sendiri hanya sampai SMP, saat ini sudah ada yang sampai SMA setelah itu mereka langsung bekerja baik sebagai petani ataupun nelayan. Alasan yang mereka kemukakan mengenai tidak dilanjutkannya pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi adalah masalah biaya. Ada pula beberapa wanita dari desa ini yang menjadi TKW di Malaysia atau Hongkong. Hubungan masyarakat dengan dunia luar salah satunya pada pemasaran hasil bumi mereka, itupun melalui penyalur yang datang ke desa. Selain itu, banyak juga penduduk desa yang merupakan pendatang dari desa-desa di sekitarnya.
Kehidupan masyarakat di sana benar-benar menunjukkan suasana kekeluargaan yang erat. Mengenai kebudayaan setempat, penduduk yang rata-rata beragama Islam ini memiliki kebiasaan melakukan kenduri atau yang biasa disebut kenduren, tak jauh beda dengan kebudayaan masyarakat Islam di Jawa lainnya. Tapi ada pula penduduk yang mengatakan tentang adanya kebiasaan nglarung/labuh laut atau melarungkan sesaji di laut.
Kepala Desa Jengglung Hardjo sendiri, Sumari, berharap agar kawasan hutan di sekitarnya tetap dijaga kelestariannya serta dimanfaatkan untuk pariwasata. Objek pariwisata yang diutamakan adalah Pantai Sanggar dan hutan serta gunung sebagai akses masuknya yang masih alami serta menjadi ciri khas tersendiri. Selama ini Pantai Sanggar belum dikenal oleh masyarakat luas, padahal keindahannya tak kalah dari pantai-pantai wisata lainnya, begitu menurut Bapak yang diiyakan oleh beberapa warga masyarakat Dusun Ngelo.
Begitulah wawancara kami dengan penduduk Dusun Ngelo dalam Analisa Sosial Masyarakat mengenai hubungan penduduk dengan lingkungan sekitarnya dalam hal ini pantai dan hutan, yang akan kami tuju dan lalui dalam kegiatan penjelajahan alam kami. Saat itu kami sudah tak sabar ingin segera melihat sendiri keindahan Pantai Sanggar yang baru Kami dengar dari penduduk tersebut. Semoga harapan warga mengenai keadaan yang lebih baik mengenai lingkungannya akan tercapai dan ada usaha untuk mewujudkannya.
Analisa Vegetasi Pantai Sanggar
Analisa vegetasi merupakan salah satu kegiatan yang ada dalam KEPALAN (Kegiatan Pasca Landaks) D XIX di Pantai Sanggar, Dusun Ngelo, Tulungagung. Analisa vegetasi ini dilakukan untuk mengetahui jenis – jenis tanaman apa saja yang ada di sekitar Pantai Sanggar. Pada analisa vegetasi kali ini kami menggunakan metode kuadran dikarenakan metode yang paling mudah dan akurat berkaitan dengan jenis medan yang dicapai. Lagi pula hutan yang di kunjungi belum diketahui keadaan vegetasinya.Luas daerah yang di Analisa sekitar dua karvak, yaitu 2 km2 , setiap karvak luasnya 1 km2 dan untuk kevaliditasan data, sample yang di ambil minimal 10%, yakni kalau dihitung dalam plot sebanyak 20 buah plot dengan masing-masing plot seluas 100m2. Dalam satu plot pengamatan dibagi menjadi empat bagian atau kuadran. Vegetasi yang diamati dari tiap kuadran adalah pohon atau tiang yang terdekat dengan titik pusat. Parameter yang diamati adalah jarak antar pohon yang terdekat dengan titik pusat, diameter batang, keliling, dan luas bidang pohon.
Alat-alat yang dipakai dalam anveg kali ini adalah sebagai berikut :
2. Herbarium 3 buah
3. Alkohol 1 botol
4. kertas koran
5. kertas HVS
Dari data yang didapat terlihat bahwa kerapatan dari kawasan hutan dan pantai di sekitar pantai masih rapat, dan juga dapat terlihat grafik penyebaran spesies tanaman. Dimulai dari daerah hutan tanaman di dominasi oleh golongan pohon kayu buta, wesen dan ketapang. Sedangkan daerah yang mendekati pantai tanaman masih hampir didominasi oleh tanaman diatas tapi sudah mulai adanya tanaman pandan. Di daerah pesisir pantai tanamannya didominasi oleh pandan dan pohon waru. Untuk wilayah terakhir yang memasuki wilayah rawa-rawa tanaman sudah mulai adanya jenis tanaman bakau dan juga masih adanya pohon waru.. Secara keseluruhan pohon waru atau Hibiscus Tiliacetus, memiliki kerapatan yang paling tinggi yaitu 21.7%, kayu wesen atau Dadonae Viscosa menempati urutan kedua dengan prosentase kerapatan 19.7%, posisi ketiga ada tanjang atau Brugurera Gymnortyca dengan prosentasi kerapatan 15.66%, Pandacus Tectorikus menyusul dengan prosentasi kerapatan 15.14%, menyusul berikutnya ketapang atau Terminalia Catappa 10.27%.
Vegetasi di kawasan Pantai Sanggar memang cukup beragam, melalui analisa vegetasi ini diharapkan keanekaragaman tersebut dapat terjaga dan dapat menunjang potensi wisata dari kawasan Pantai Sanggar. Harapan kedepan mudah-mudahan kenenekragaman hayati hutan Pantai Sanggar tetap terjaga dari perbuatan ilegal loging maupun vandalisme agar kawasan tersebut masih tetap alami seperti sedia kala.
Artikel ini spesial kami persembahkan untuk masyarakat Desa Ngelo, Bpk. Bero selaku Bayan DusunNgelo, Bpk. Samiran selaku Kepala Dusun Ngelo, Kepala Desa Jengglungharjo atas nama Bpk Sumari serta pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah membantu penyusunan artikel ini. Terakhir semoga harapan masyarakat desa Ngelo atas pengembangan kawasan Pantai Sanggar menjadi objek pariwisata dapat terwujud.
Pengirim :
Sekretariat PLH SIKLUS ITS
Sukolilo, Surabaya
slideshow
Fotoku
lagi ikut lomba birdwatching
