Beranda

Wednesday, September 16, 2009

Sebuah Reportase Perjalanan Detektif Lingkungan Divisi BABM PLH Siklus ITS (Part 1)

Reportase kegiatan merupakan salah satu penulisan ilmiah dalam bentuk deskriptif hasil observasi suatu kegiatan. Cara yang diperoleh untuk mendapatkan data adalah dengan mengamati suatu fenomena (melihat, mendengar, merasa, menghirup ataupun bentuk pengamatan lain dengan menggunakan alat indera) serta mendokumentasikan lewat gambar, tulisan, video dan lain-lain. Intinya adalah peneliti just menghimpun fakta-fakta atau informasi-informasi tanpa melakukan pengujian-pengujian ataupun analisis hubungan. Sehingga bentuk penyampaian informasi yang digunakan berupa deskripsi hasil pengamatan (cerita ulang). Data yang diperoleh adalah data kualitatif (tidak berupa angka). Salah satu contoh penelitian yang laporannya menggunakan reportase yaitu mengungkapkan fenomena-fenomena pencemaran udara di wilayah Surabaya Timur. Misalnya saja mengungkapkan fenomena-fenomena tersebut dengan mengadakan suatu kegiatan kecil seperti bersepeda dengan memotret “fenomena pencemaran udara” seperti kegiatan yang telah dilakukan divisi BABM PLH SIKLUS ITS pada tanggal 5 April 2009 yang lalu. Berikut ini adalah hasil reportase kegiatan yang telah dilakukan.

Reportase Kegiatan Bersepeda Dalam Mengungkapkan Fenomena-Fenomena Pencemaran Udara


Kegiatan pemeriksaan kondisi kualitas pencemaran di kawasan Surabaya Timur ini berlangsung pada hari Minggu, 5 April 2009 pukul 08.40 WIB. Dilakukan oleh 5 orang, yaitu 4 orang divisi BABM (Bakti Alam Bakti Masyarakat) yakni Brainca, Rivel, Zein, Lusi dan 1 orang AM (Anggota Muda) yaitu Sari. Terjadi keterlambatan selama 1 jam 40 menit dari rencana awal. Hal ini diakibatkan oleh adanya personel yang datang tidak tepat waktu, jumlah sepeda kurang dan tidak layak pakai (sehingga perlu dilakukan perbaikan), serta mencari kamera (tidak bertemu divisi logistik, tidak sempat bilang pada pihak yang bersangkutan, hingga kamera SIKLUS tidak bisa dipinjamkan). Dilakukan perpersiapan, briefing, foto-foto dan berdoa sebelum berangkat hingga menghabiskan waktu selama 10 menit hingga pukul 08.50 WIB. Setelah itu kelima pelaku itupun berangkat.

Hal yang telah ditemui selama perjalanan yaitu kondisi jalan raya sepi dari kendaraan, khususnya kendaraan bermotor (tidak seperti biasa / hari aktif). Sehingga polusi udara yang ditimbulkan tidak separah parah.
Fenomena lain yang ditemui yaitu adanya pembakaran sampah oleh salah satu warga di Jalan Kenjeran. Pembakaran pada sampah adalah salah satu penyumbang polusi udara, hal itu disebabkan oleh adanya partikulat-partikulat hasil pembakaran. Partikulat-partikulat yang dihasilkan tersebut bertebaran di jalan dan mengganggu pernapasan serta pengelihatan pengguna jalan. Suatu hal yang menarik lagi di jalan Kenjeran adalah adanya segerombolan manusia yang ternyata adalah massa dari caleg (calon legeslatif) partai PDIP. Pada waktu kami melewatinya, mereka masih stand by ditempat itu untuk mendapatkan sembako. Namun diduga mereka juga melakukan aksi kampanye karena mereka membawa banyak kendaraan serti pick up satpol PP, mobil, motor, becak, sepeda, dan lain-lain. Sehingga diduga kegiatan kampanye tersebut juga turut menyumbang pencemaran udara yang terjadi di Surabaya. Selama perjalanan dari ITS ke etape 1 (belokan dari arah Kenjeran ke Putro Agung) tidak ditemukan adanya polusi udara yang diakibatkan oleh industri, seperti ruko, toko, pabrik, dan lain-lain. Semuanya tutup karena hari libur. Adapun kendaraan yang ditemui selama perjalanan yaitu mobil, bemo, motor, truk, pick up, becak, sepeda, “kereta kelinci”.



Pada etape 1, kami mewawancarai seorang tukang kunci di pinggir jalan Putro Agung (belokan dari Jalan Kenjeran ke Putro Agung). Beliau bernama Suprapto. Keseharian Beliau adalah “nongkrong” disana (selain tempat mencari nafkah, tempat tinggalnya juga berada di sekitar lokasi tempat kami melakukan observasi). Beliau mengatakan bahwa Beliau sebenarnya tidak betah dengan asap kendaraan bermotor di sana (tempat Beliau kerja). Hanya karena tuntutan kehidupan, Beliau masih bertahan. Perjalanan menuju etape 2 dimulai pada pukul 10.17 WIB. Sepuluh menit setelah perjalanan dimulai, kami menemukan asap hitam mengepul di udara. Setelah ditelusuri, ternyata asap hitam tersebut berasal dari produksi pabrik tahu di Jalan Karang Asem (kalau tidak nomor 6 ya 7). Kami singgah di pabrik tersebut pada pukul 10.27 WIB. Kamera kami tidak bisa memotret dengan jelas karena letak kami ke cerobong tersebut jauh. Namun jika dilihat dengan “mata telanjang” terlihat sangat jelas. Secara berkala selang kurang lebih satu menit, asap yang keluar putih-hitam-tidak berasap. Siklus tersebut terjadi secara berulang-ulang. Pabrik tersebut berproduksi setiap hari kecuali hari lebaran. Sehingga pabrik tersebut juga dikatakan penyuplai pencemaran di udara.
.
Perjalanan berlanjut menuju etape 2 . Tepat 8 menit setelah perjalanan (sekitar pukul 10.36 WIB) di sebrang jalan Bronggalan 28 (pinggir sungai) ada orang yang membakar sampah. Perlu diketahui, sampah itu sebenarnya tidak sehat jika dibakar, karena asap yang ditimbulkannya merupakan salah satu bentuk polusi. Segala bentuk sampah seharusnya dikubur.


Pada pukul 10.47 WIB tepat di perempatan antara Fakultas Kedokteran UNAIR dan Rumah Sakit Husada Utama, kami menemui jalan yang relatif kecil tersebut padat karena adanya kampanye Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Otomatis asap kendaraan juga mengepul. Pembangunan di Fakultas Kedokteran menambah debu dan polutan lain.


Terdapat 4 pilar besar Di RS Husada Utama (yang nampak dari tempat kami istirahat). Salah satu diantaranya terlihat kusam, diduga disebabkan oleh adanya polusi udara. Ada 1 pilar lagi yang kondisinya parah, berkarat akibat proses korosi.


Kami sempat melakukan perhitungan terhadap jumlah kendaraan yang lewat di depan kami singgah. Selama 3 menit kami mengawasi, terdapat 21 mobil dan 143 motor (terlepas dari keterbatasan kami dalam menghitung jumlah kendaraan). Pemeriksaan itu hanya dari satu sisi perempatan dan hanya dalam waktu 3 menit. Bagaimana jika fenomena serupa di selurus Surabaya dan terjadi berulang-ulang setiap hari ? Apakah yang akan terjadi ?Pukul 11.00WIB tepat perjalanan menuju etape 3 dimulai. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke etape 3 dari etape 2. Adapun letak etape 3 yaitu di jalan Dharmawangsa (perempatan Kertajaya). Tujuan kami kesini yaitu untuk melihat hasil up date dari pemeriksaan pencemaran udara di Surabaya Timur (ISPU, Indeks Standar Pencemaran Udara), karena alat yang digunakan untuk mengetahui hasil dari pencemaran yang ada di Surabaya Timur hanya ada di sini, depan pom bensin. Sedangkan alat untuk mengidentifikasi pencemaran udara berada di jalan Arief Rahman Hakim. Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan tersebut adalah pencemaran yang terjadi di wilayah Surabaya Timur adalah pencemaran tingkat sedang.

Tepat di pertigaan sebrang cafĂ© glass jalan Ngagel Jaya, kami berhenti sejenak untuk melakukan observasi. Hari sudah siang sehingga suasana juga mulai panas, kendaraan juga sudah semakin padat di jalan-jalan, sangat ramai. Kondisi di tempat kami melakukan “inspeksi mendadak tersebut” terlihat banyak sampah berkeliaran dan tembok-tembok mengelupas. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan tembok mengelupas adalah karena adanya pencemaran udara.


Pada etape 5 yaitu sekitar pukul 11.53 WIB, ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Hari dimana kami melakukan observasi, suasana sepi (jika dibandingkan dengan hari aktif). Tapi tidak mengurangi rasa panas para pengguna jalan. Kami berhenti di sebelah kebun bibit. Tercium bau yang sangat tidak enak menyengat ke hidung kami. Ternyata air kubangan bercampur lumpur yang tidak jelas darimana asalanya.

 Ada beberapa info yang diperoleh dari pedagang sekitar kebun bibit mengenai kepemilikan kebun bibit tersebut yang secara tidak langsung berpeluang untuk memberikan pengaruh negatif terhadap lingkugan dalam jangka waktu beberapa periode ke depan. Ternyata kebun bibit tersebut telah menjadi milik swasta dari beberapa bulan yang lalu (kurang lebih 3 bulan yang lalu). Kebun bibit merupakan barrier. Barrier merupakan istilah untuk penyangga polutan supaya tereduksi, terutama yang berasal dari asap pabrik. Dengan kata lain Kebun bibit merupakan salah satu penyaring udara di Surabaya Timur. Lha pertanyaannya sekarang adalah apakah hal itu tetap berjalan sebagaimana mestinya ? Syukur-syukur kalau sang pemiliknya adalah pemerhati lingkungan, bagaimana kalau bukan ? Apa yang akan terjadi ? Bagaiaman kalau beberapa tahun yang akan datang daerah tersebut dijadikan ruko atau apa saja yang ujung-ujungnya berorientasi pada provit tanpa memperhatikan aspek lingkungan ?


Perempatan Panjang Jiwo pukul 13.43 WIB, sangat panas sekali karena jumlah pohon sangat sedikit sekali, sudah sedikit tidak rimbun pula. Ditambah lagi aktifitas transportasi yang padat, hingga mengakibatkan Surabaya menjadi panas. Perlu diingat bahwa alam juga mempunyai keterbatasan dalam mengimbangi polusi yang terjadi. Mungkin sekarang belum terasa dampaknya. Tapi siapa yang berani menjamin apa yang terjadi satu tahun ke depan, dua tahun ke depan, atau beberapa tahun ke depan ? Penyumbang terbesar kerusakan atau semakin lebarnya lubang ozon adalah pencemaran udara. Sehingga jangan sampai kota Surabaya ini turut menjadi penyumbang kerusakan terbesar tersebut.

Sekedar wacana saja, tentang kondisi sungai yang ada di sana. Ternyata sungai yang ada di sana sungai yang lebar. Sungai tersebut diplengseng, tidak ada sempadan sungainya. Padahal seharusnya sungai harus diberi jarak selebar 5 m di kanan dan kiri sungai yang ditumbuhi tumbuhan. Sedangkan disana gersang. Tidak ada tanaman, hanya terdapat gundukan batu kerikil. Jalan Raya Kali Rungkut pukul 13.55 WIB di depan proyek bp Green Contractor. Para peneliti juga masih bingung itu proyek apa, kami juga kesulitan untuk bertanya karena di sekitar proyek tidak ada orang yang berkeliaran, yang mungkin bisa untuk ditanyai. Sebuah proyek bangunan, apapun bentuknya, sangatlah menarik bagi para peneliti pencemaran udara karena proyek pembangunan sebuah bangunan berpotensi sangat besar menjadi penyumbang partikulat di udara.

  Perjalanan menuju titik terakhir dari serangkaian perjalanan dimulai. Selama perjalanan kami disesakkan oleh asap pembakaran. Penglihatan kami juga terganggu oleh adanya debu-debu yang bertebaran kemana-mana. Setelah dilakukan pencarian penyebab dari pembakaran tersebut, ternyata asap tersebut berasal dari salah satu pabrik yang ada di Kali Rungkut. Ketika kami akan mengambil gambar, ternyata petugas keamanan dari pabrik tersebut menghalangi kami dalam mengambil gambar. Mungkin mereka takut kesalahan mereka di expose. Apakah kalian tahu apa kesalahan mereka ?


 Kesalahan mereka adalah telah membakar sampah. Sampah tidak boleh dibakar, apapun bentuknya. Sampah hanya boleh dikubur bukan dibakar. Terlebih untuk taraf pabrik (skala besar). Oleh Karena itu, para petugas keamanan PT. "K" tidak segan berkata kasar (agak membentak) agar kami segera pergi tanpa memotret fenomena tersebut (agar tidak ada bukti adanya peristiwa tersebut). Adapun potret yang kami peroleh kami ambil dari sebrang jalan ketika kondisi jalan sepi oleh kendaraan. Pada titik perhentian yang terakhir pukul 14.15 WIB yaitu di pertigaan jalan Rungkut Kidul, ditemui bahwa alur lalu lintasnya agak sedikit “semrawut”, debu dan asap kendaraan dimana serta pohon pun “terbatas”. Sehingga menambah panasnya suasana.

Setelah kami mendapatkan hasil yang diinginkan tersebut, kami kembali menuju Institut Teknologi Sepuluh Nopember untuk merencanakan pengumpulan data, membuat reportase kegiatan dengan ending menyerahkan hasil serangkaian acara tersebut ke divisi HUMAS (Hubungan Masyarakat).

Sunday, September 6, 2009

Taman Nasional Komodo Melaju ke Babak Final - 7 Keajaiban Alam Dunia


Menjadi sebuah kebanggaan bagi bangsa Indonesia ketika Taman Nasional Komodo (TNK) berhasil menjadi salah satu finalis Kampanye "New 7 Wonders of Nature". TNK dinilai berhak melaju ke tahap final setelah menyisihkan kurang lebih 440 nominasi dari 220 negara.

"Pada tanggal 21 Juli 2009 pukul 12.07 GMT (19.07 WIB), New 7 Wonders Foundation telah mengumumkan TNK sebagai salah satu dari 28 finalis yang berhak untuk melanjutkan ke tahap final (Tahap III)," bunyi rilis Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang diterima detikcom, Rabu (22/7/2009).

Masyarakat Indonesia diharapkan memberi dukungan sebanyak mungkin agar Taman Nasional Komodo di Flores, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

"Mengajak seluruh masyarakat Indonesia dan dunia untuk berpartisipasi aktif melakukan pemilihan, agar terpilih sebagai salah satu dari 'Tujuh Keajaiban Dunia bernuansa Alam' yang akan ditentukan pada tahun 2011," begitu bunyi seruan tersebut.

Ayo tunggu apa lagi, sekarang saatnya melakukan sesuatu yang nyata untuk mengharumkan nama negeri ini dan menunjukan pada dunia Indonesia kita yang sebenarnya.

Bagi anda yang akan memilih dapat melakukan dengan dua cara, Pertama memilih dengan cara online melalui website http://www.new7wonders.com. Kedua, memilih melalui telephone (SLI) dengan menekan +41 77 312 4041. Setelah pesan selesai dan terdengar bunyi beep tekan kode 7717 untuk memilih Taman Nasional Komodo.

Dukung Taman Nasional Komodo.. Dukung Indonesia-mu.!!!

Friday, September 4, 2009

Ke Gunung Rinjani Bersama Kekasih Tercinta :)



Terinspirasi dari sebuah sinetron FTV yang soundtrack lagunya drive, dimana disitu diceritakan tentang seorang pemuda yang mempunyai masa lalu yang kelam dalam percintaannya dan ia akhirnya "menyepi" ke gunung rinjani untuk sejenak melepaskan beban-beban yang ada. Dan pada akhirnya di sana ia menemukan belahan jiwa yang selam ini ia cari. Kemudian bersama kekasih barunya, lelaki itu mendaki gunung rinjani untuk meluapkan kebahagiaannya dan rasa cinta kasihnya kepada belahan jiwanya tersebut.Sungguh romantis sekali,,Mereka berdua dapat menikmati pemandangan alam di Rinjani berdua,,Aku jadi ngiri bgt:P...Aku pengen suatu saat bisa pergi ke Gunung Rinjani bersama kekasih tercintaku Amien.3x ya RObbal Alamin!:)

Thursday, September 3, 2009

Penetapan Tarif Pemanduan Wisata TNGGP

SURAT KEPUTUSAN KEPALA BALAI BESAR

TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

Nomor: SK.93/11-TU/1/2009

TENTANG

PENETAPAN TARIF PEMANDUAN WISATA

TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

KEPALA BALAI BESAR TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

Menimbang :

a. bahwa kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan Kawasan Pelestarian Alam yang mengembangkan fungsi pemanfaatan berkelanjutan, oleh karena itu pengembangan aktivitas wisata alam perlu dikelola dengan optimal untuk memberikan pengalaman memuaskan bagi pengunjung, namun tetap menjaga kualitas fungsi kawasan.

b. bahwa setiap pengunjung TNGGP diwajibkan untuk dipandu dengan tujuan keamanan dan pelayanan selama kunjungan;

c. bahwa belum adanya keseragaman tarif pemanduan wisata di TNGGP

d. bahwa untuk kelancaran dalam pelaksanaan kegiatan pemanduan di TNGGP maka perlu untuk ditetapkan besaran tarif pemanduan di TNGGP dengan Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP.

Mengingat :

1. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

2. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;

3. Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;

4. Peraturan Pemerintah No. 68 tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam;

5. Peraturan Pemerintah No. 59 tahun 1998 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Kehutanan;

6. Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan;

7. Peraturan Menteri Kehutanan No. P.03/Menhut-II/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional.

Memperhatikan:

1. Terbentuknya Forum Interpreter BBTNGGP;

2. Surat Forum Interpreter Nomor. 02/SUTG/FI-GPNP/2009 tanggal 5 Juli 2009, perihal usulan tarif Guide;

3. Hasil pembahasan Balai Besar TNGGP terhadap usulan tarif dari Forum Interpreter TNGGP pada tanggal 30 Juli 2009

4. Surat Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP Nomor: SK.91/11-TU/1/2009 tentang Penunjukan Petugas Pemandu, Porter dan Interpreter TNGGP;

5. Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP No. SK. 84/11-TU/1/2009 tanggal 10 Agustus 2009 tentang Petunjuk Teknis Pelayanan Pendakian di TNGGP.

M E M U T U S K A N

Menetapkan :

SURAT KEPUTUSAN KEPALA BALAI BESAR TNGGP TENTANG PENETAPAN TARIF PEMANDUAN WISATA TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

KESATU : Keputusan Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Tentang Penetapan Tarif Pemanduan Wisata Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini;

KEDUA : Penetapan tarif sebagaimana dimaksud dalam amar KESATU merupakan acuan bagi para pemandu di TNGGP untuk menetapkan tarif pemanduan kepada pengunjung TNGGP;

KETIGA : Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan ini akan diatur kemudian dan apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya;

KEEMPAT : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Cibodas

Pada tanggal : 25 Agustus 2009

KEPALA BALAI BESAR,

Ttd

Ir. SUMARTO, MM.

NIP. 19610708 198703 1 002

Salinan Keputusan ini disampaikan kepada Yth. :

1. Direktur Jenderal PHKA;

2. Sekretaris Ditjen PHKA;

3. Direktur Konservasi Kawasan Ditjen PHKA;

4. Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Ditjen PHKA;

5. Kepala Pusat Informasi Kehutanan;

6. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat;

7. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat;

8. Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi;

9. Pejabat Eselon 3 dan 4 Lingkup Balai Besar TNGGP;

10. Koordinator Forum Interpreter TNGGP;

11. Ketua Koperasi Edelweis TNGGP.

Lampiran Surat Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP

Tentang : Penetapan Tarif Pemanduan Wisata Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Nomor: SK. 93/11-TU/1/2009

TARIF PEMANDUAN WISATA

TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

Tujuan - Biaya (Rp)

I. WISATAWAN MANCANEGARA

Cibodas – Cibeureum Waterfall 200.000/jalan

Cibodas – Hot Water Spring 275.000/jalan

Cibodas – Gede – Cibodas/Putri 400.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Cibodas 450.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Gede – Cibodas/Putri 475.000/jalan

Bird Watching 500.000/jalan

II. WISATAWAN DOMESTIK

Cibodas – Cibeureum Waterfall 175.000/jalan

Cibodas – Hot Water Spring 225.000/jalan

Cibodas – Gede – Cibodas/Putri 325.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Cibodas 375.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Gede – Cibodas/Putri 400.000/jalan

III. PORTER (MANCANEGARA DAN DOMESTIK)

Cibodas – Cibeureum Waterfall 150.000/jalan

Cibodas – Hot Water Spring 200.000/jalan

Cibodas – Gede – Cibodas/Putri 275.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Cibodas 300.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Gede – Cibodas/Putri 350.000/jalan

Catatan :

Untuk pendakian lebih dari 2 hari 1 malam dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 100.000,-

KEPALA BALAI BESAR,

Ttd

Ir. SUMARTO, MM.

NIP. 19610708 198703 1 002


sumber : www.gedepangrango.org

Tuesday, September 1, 2009

Berbagai Tumbuhan Liar yang Bisa di Makan

Buah arbei hutan yang terdapat banyak di alam liar

Aktivitas di alam terbuka sering memunculkan situasi darurat. Tersesat, terhadang cuaca buruk, atau kehabisan bekal. Jangan panik, tumbuhan liar hutan menyediakan aneka daun, buah, umbi, batang yang bisa dimakan, asalkan kita mengenal ciri-cirinya.

Arbei hutan (Rubus) rasanya menggiurkan. Kalau Anda mengaku pencinta alam yang doyan menempuh rimba atau mendaki gunung, pasti kenal dengan istilah survival, yaitu upaya untuk bisa bertahan hidup di alam liar. Pengetahuan survival wajib dikuasai oleh para petualang untuk menghadapi situasi darurat lantaran kehilangan orientasi atau kehabisan bekal.

Kiat hidup darurat ini penting, soalnya alam kerap sulit diprediksi perilakunya, walaupun sejak awal Anda telah mempersiapkan segala sesuatu secermat mungkin. Misalnya peta lokasi, kompas, global positioning system (alat untuk mengetahui posisi sesaat dengan bantuan satelit), alat komunikasi (HT, HP), bekal, dan obat-obatan.

Dengan pengetahuan survival yang andal, Anda seperti mempunyai jurus pamungkas yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan di saat posisi terjepit. Sebagian dari ilmu survival itu adalah pengetahuan tentang aneka tumbuhan liar yang layak dan aman untuk dimakan.

Menurut para ahli, 10% dari keseluruhan jenis tumbuhan berbunga di dunia ada di Indonesia. Artinya kita memiliki kurang lebih 25.000 jenis tumbuhan berbunga. Jika ditambah dengan tumbuhan tak berbunga dan jamur, maka jumlahnya akan berlipat-lipat. Dari keseluruhan jenis tumbuhan itu ada yang beracun, ada yang bisa dimakan, dan ada yang disarankan untuk dimakan.

Tak beracun = dimakan satwa
Untuk mengetahui apakah suatu jenis tumbuhan di hutan aman atau tidak untuk dimakan, ada beberapa kunci yang bisa dijadikan pegangan.

Tumbuhan yang daun, bunga, buah, atau umbinya biasa dimakan oleh satwa liar, adalah tumbuhan yang tidak beracun. Jadi kita bisa mengkonsumsinya. Sementara, tumbuhan yang berbau tidak sedap dan bisa membuat pusing, serta tidak disentuh oleh binatang liar, sebaiknya jangan disentuh. Juga tumbuhan bergetah yang membikin kulit gatal, dianjurkan untuk dihindari. Buah senggani (Melastoma sp.) boleh dimakan.

Tumbuhan lain yang perlu disingkirkan adalah tanaman yang daunnya bergetah pekat, berwarna mencolok, berbulu, atau permukaannya kasar. Tanaman dengan daun yang keras atau liat juga jangan dikonsumsi. Jika mendapatkan tumbuhan kemaduh (Laportea stimulans) waspadalah lantaran bulu pada daunnya membuat kulit gatal dan panas.

Sementara itu beberapa jenis tumbuhan yang mungkin ditemui di hutan dan dapat dimakan meliputi beragam jenis. Di antaranya keluarga palem-paleman, misalnya kelapa, kelapa sawit, sagu, nipah, aren, dan siwalan. Bukan hanya bagian umbutnya (bagian ujung batang muda dan berwarna putih) yang bisa dimakan, tapi juga buahnya (seperti kelapa dan siwalan).

Jenis jambu-jambuan yang masuk dalam keluarga Myrtaceae juga banyak dijumpai di hutan. Ciri-ciri Myrtaceae adalah daunnya berbau agak manis jika diremas. Bunganya memiliki banyak sekali benang sari dengan buah yang enak dimakan.

Tumbuhan semak dari keluarga begonia juga bisa jadi penyelamat dalam keadaan darurat. Daun begonia umumnya berbentuk jantung tidak simetris. Beberapa jenis dijadikan tanaman hias. Bila tangkai daunnya yang masih muda dikupas dan dimakan, rasanya masam dan sedikit pahit.

Beberapa jenis keladi umbinya bisa dimakan, meski pada jenis lain umbinya menyebabkan gatal di mulut dan bibir. Untuk itu dianjurkan untuk tidak sembarangan melahap keladi hutan. Sebaiknya dicoba dulu dalam jumlah kecil. Hindari makan iles-iles (Amorphophallus sp.)

Tumbuhan merambat dan melilit di pohon lain, bisa dimakan jika lilitan batang ke arah kanan (searah dengan jarum jam). Di antaranya gembili (Dioscorea aculeata), gembolo (Dioscorea bulbifera), ubi rambat. Tapi bila arah lilitannya ke kiri (berlawanan arah jarum jam) dan batangnya berduri, harus ekstrahati-hati. Jenis yang kedua ini misalnya gadung (Dioscorea hispida), yang beracun, walau tetap dapat dimakan setelah melalui proses pengolahan khusus.

Rebung bambu: cocok untuk alternatif makanan survival

Sementara keluarga rumput-rumputan seperti tebu dan beberapa jenis bambu, rebungnya enak dimakan. Demikian pula pisang hutan bisa langsung dikonsumsi.

Di tempat yang lembap dan tinggi, jenis paku-pakuan tunas dan daun mudanya enak dimakan. Tumbuhan lain yang buahnya juga bisa dimakan misalnya markisa (Passiflora sp.). Markisa ini adalah tumbuhan merambat dengan bunga khas. Beberapa anggota keluarga sirsak (Annonaceae), misalnya Annona muricata, daging buahnya segar. Buah lainnya semisal senggani (Melastoma sp.), arbei hutan (Rubus), dan anggur hutan.

Hindari warna mencolok
Selain tumbuhan di atas, jamur juga bisa menjadi dewa penyelamat bila tersesat. Menurut literatur, sudah ditemukan 38.000 jenis jamur di seantero dunia. Di antaranya ada yang enak dimakan, tapi sayang, yang tidak boleh dimakan karena beracun lebih banyak lagi. Tidak heran bila budaya makan jamur yang layak konsumsi konon sudah ada sejak jaman Mesir Kuno.

Untuk mengetahui jamur itu beracun atau tidak, bisa dilihat dari bentuk, warna, dan tempat tumbuhnya. Sementara di laboratorium, bisa dilakukan analisis secara kimiawi maupun dengan hewan percobaan. Tetapi jika sedang dihadapkan pada masalah mendesak survival di hutan belantara, mustahil bisa pergi ke laboratorium dulu untuk memastikan apakah jamur yang ditemukan itu beracun atau tidak. Karena itu kita perlu mengenal jamur-jamur yang biasa dikonsumsi masyarakat.

Untuk menghindari makan jamur liar beracun, perlu diketahui ciri-cirinya. Yaitu, warna payungnya gelap atau mencolok misalnya biru, kuning, jingga, merah. Perkecualian untuk jamur kuping dengan payung coklat yang toh juga dapat dimakan. Bau tidak sedap lantaran kandungan asam sulfida atau amonia juga sekaligus menunjukkan jamur tersebut tak layak konsumsi.


Tahukah Anda, beberapa jenis jamur ada yang memiliki cincin atau cawan pada tangkainya, misalnya jenis Amanita muscaria, dalam bahasa Jawa disebut supa-upas. Bentuknya seperti payung putih kekuningan, bagian payungnya warna merah bintik-bintik putih. Awas, racun pada jamur ini tergolong racun kuat. Beda dengan jamur merang (Volvariella volvacea), meski mempunyai cincin tetapi bisa dimakan.

Jamur beracun umumnya tumbuh di tempat kotor, misalnya pada kotoran hewan dsb. Mereka dapat berubah warna jika dipanasi. Jika diiris dengan pisau perak atau digoreskan pada perkakas perak akan meninggalkan warna biru. Warna biru ini disebabkan kandungan sianida atau sulfida, yang beracun. Sementara nasi akan berwarna kuning jika dicampur jamur beracun. Petunjuk lain, ia juga tidak dimakan oleh hewan liar.

Repotnya jenis jamur ini juga berbahaya kalau sampai sporanya menempel pada kulit, karena dapat menyebabkan kulit gatal, bahkan melepuh. Bagaiamana ciri-ciri orang yang keracunan jamur? Selidikilah, apakah ia pusing, perut sakit terutama ulu hati, mual, sering buang air kecil, tubuh lemas, pucat? Jika ia muntah, adakah darah pada muntahannya? Racun akibat jamur cukup ganas juga, kalau tidak tertolong korban bisa meninggal setelah 3 - 7 hari.

Sebelum dimakan, tumbuhan liar di hutan sebaiknya dimasak dulu untuk mengurangi dampak buruk seperti diare dan alergi. Bagaimana kalau sedang coba-coba makan tumbuhan hutan lantas keracunan? Masih ada upaya menetralkan. Upayakan untuk memuntahkannya dengan jalan "dipancing-pancing". Jika sudah muntah minumlah air kelapa, namun jika tak menemukannya minumlah air sebanyak-banyaknya.

slideshow

Fotoku

Fotoku
lagi ikut lomba birdwatching

Islamic Web Category

Powered By Blogger