Beranda

Friday, September 4, 2009

Ke Gunung Rinjani Bersama Kekasih Tercinta :)



Terinspirasi dari sebuah sinetron FTV yang soundtrack lagunya drive, dimana disitu diceritakan tentang seorang pemuda yang mempunyai masa lalu yang kelam dalam percintaannya dan ia akhirnya "menyepi" ke gunung rinjani untuk sejenak melepaskan beban-beban yang ada. Dan pada akhirnya di sana ia menemukan belahan jiwa yang selam ini ia cari. Kemudian bersama kekasih barunya, lelaki itu mendaki gunung rinjani untuk meluapkan kebahagiaannya dan rasa cinta kasihnya kepada belahan jiwanya tersebut.Sungguh romantis sekali,,Mereka berdua dapat menikmati pemandangan alam di Rinjani berdua,,Aku jadi ngiri bgt:P...Aku pengen suatu saat bisa pergi ke Gunung Rinjani bersama kekasih tercintaku Amien.3x ya RObbal Alamin!:)

Thursday, September 3, 2009

Penetapan Tarif Pemanduan Wisata TNGGP

SURAT KEPUTUSAN KEPALA BALAI BESAR

TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

Nomor: SK.93/11-TU/1/2009

TENTANG

PENETAPAN TARIF PEMANDUAN WISATA

TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

KEPALA BALAI BESAR TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

Menimbang :

a. bahwa kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan Kawasan Pelestarian Alam yang mengembangkan fungsi pemanfaatan berkelanjutan, oleh karena itu pengembangan aktivitas wisata alam perlu dikelola dengan optimal untuk memberikan pengalaman memuaskan bagi pengunjung, namun tetap menjaga kualitas fungsi kawasan.

b. bahwa setiap pengunjung TNGGP diwajibkan untuk dipandu dengan tujuan keamanan dan pelayanan selama kunjungan;

c. bahwa belum adanya keseragaman tarif pemanduan wisata di TNGGP

d. bahwa untuk kelancaran dalam pelaksanaan kegiatan pemanduan di TNGGP maka perlu untuk ditetapkan besaran tarif pemanduan di TNGGP dengan Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP.

Mengingat :

1. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

2. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;

3. Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;

4. Peraturan Pemerintah No. 68 tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam;

5. Peraturan Pemerintah No. 59 tahun 1998 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Kehutanan;

6. Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan;

7. Peraturan Menteri Kehutanan No. P.03/Menhut-II/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional.

Memperhatikan:

1. Terbentuknya Forum Interpreter BBTNGGP;

2. Surat Forum Interpreter Nomor. 02/SUTG/FI-GPNP/2009 tanggal 5 Juli 2009, perihal usulan tarif Guide;

3. Hasil pembahasan Balai Besar TNGGP terhadap usulan tarif dari Forum Interpreter TNGGP pada tanggal 30 Juli 2009

4. Surat Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP Nomor: SK.91/11-TU/1/2009 tentang Penunjukan Petugas Pemandu, Porter dan Interpreter TNGGP;

5. Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP No. SK. 84/11-TU/1/2009 tanggal 10 Agustus 2009 tentang Petunjuk Teknis Pelayanan Pendakian di TNGGP.

M E M U T U S K A N

Menetapkan :

SURAT KEPUTUSAN KEPALA BALAI BESAR TNGGP TENTANG PENETAPAN TARIF PEMANDUAN WISATA TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

KESATU : Keputusan Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Tentang Penetapan Tarif Pemanduan Wisata Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini;

KEDUA : Penetapan tarif sebagaimana dimaksud dalam amar KESATU merupakan acuan bagi para pemandu di TNGGP untuk menetapkan tarif pemanduan kepada pengunjung TNGGP;

KETIGA : Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan ini akan diatur kemudian dan apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya;

KEEMPAT : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Cibodas

Pada tanggal : 25 Agustus 2009

KEPALA BALAI BESAR,

Ttd

Ir. SUMARTO, MM.

NIP. 19610708 198703 1 002

Salinan Keputusan ini disampaikan kepada Yth. :

1. Direktur Jenderal PHKA;

2. Sekretaris Ditjen PHKA;

3. Direktur Konservasi Kawasan Ditjen PHKA;

4. Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Ditjen PHKA;

5. Kepala Pusat Informasi Kehutanan;

6. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat;

7. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat;

8. Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi;

9. Pejabat Eselon 3 dan 4 Lingkup Balai Besar TNGGP;

10. Koordinator Forum Interpreter TNGGP;

11. Ketua Koperasi Edelweis TNGGP.

Lampiran Surat Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP

Tentang : Penetapan Tarif Pemanduan Wisata Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Nomor: SK. 93/11-TU/1/2009

TARIF PEMANDUAN WISATA

TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

Tujuan - Biaya (Rp)

I. WISATAWAN MANCANEGARA

Cibodas – Cibeureum Waterfall 200.000/jalan

Cibodas – Hot Water Spring 275.000/jalan

Cibodas – Gede – Cibodas/Putri 400.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Cibodas 450.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Gede – Cibodas/Putri 475.000/jalan

Bird Watching 500.000/jalan

II. WISATAWAN DOMESTIK

Cibodas – Cibeureum Waterfall 175.000/jalan

Cibodas – Hot Water Spring 225.000/jalan

Cibodas – Gede – Cibodas/Putri 325.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Cibodas 375.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Gede – Cibodas/Putri 400.000/jalan

III. PORTER (MANCANEGARA DAN DOMESTIK)

Cibodas – Cibeureum Waterfall 150.000/jalan

Cibodas – Hot Water Spring 200.000/jalan

Cibodas – Gede – Cibodas/Putri 275.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Cibodas 300.000/jalan

Cibodas – Pangrango – Gede – Cibodas/Putri 350.000/jalan

Catatan :

Untuk pendakian lebih dari 2 hari 1 malam dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 100.000,-

KEPALA BALAI BESAR,

Ttd

Ir. SUMARTO, MM.

NIP. 19610708 198703 1 002


sumber : www.gedepangrango.org

Tuesday, September 1, 2009

Berbagai Tumbuhan Liar yang Bisa di Makan

Buah arbei hutan yang terdapat banyak di alam liar

Aktivitas di alam terbuka sering memunculkan situasi darurat. Tersesat, terhadang cuaca buruk, atau kehabisan bekal. Jangan panik, tumbuhan liar hutan menyediakan aneka daun, buah, umbi, batang yang bisa dimakan, asalkan kita mengenal ciri-cirinya.

Arbei hutan (Rubus) rasanya menggiurkan. Kalau Anda mengaku pencinta alam yang doyan menempuh rimba atau mendaki gunung, pasti kenal dengan istilah survival, yaitu upaya untuk bisa bertahan hidup di alam liar. Pengetahuan survival wajib dikuasai oleh para petualang untuk menghadapi situasi darurat lantaran kehilangan orientasi atau kehabisan bekal.

Kiat hidup darurat ini penting, soalnya alam kerap sulit diprediksi perilakunya, walaupun sejak awal Anda telah mempersiapkan segala sesuatu secermat mungkin. Misalnya peta lokasi, kompas, global positioning system (alat untuk mengetahui posisi sesaat dengan bantuan satelit), alat komunikasi (HT, HP), bekal, dan obat-obatan.

Dengan pengetahuan survival yang andal, Anda seperti mempunyai jurus pamungkas yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan di saat posisi terjepit. Sebagian dari ilmu survival itu adalah pengetahuan tentang aneka tumbuhan liar yang layak dan aman untuk dimakan.

Menurut para ahli, 10% dari keseluruhan jenis tumbuhan berbunga di dunia ada di Indonesia. Artinya kita memiliki kurang lebih 25.000 jenis tumbuhan berbunga. Jika ditambah dengan tumbuhan tak berbunga dan jamur, maka jumlahnya akan berlipat-lipat. Dari keseluruhan jenis tumbuhan itu ada yang beracun, ada yang bisa dimakan, dan ada yang disarankan untuk dimakan.

Tak beracun = dimakan satwa
Untuk mengetahui apakah suatu jenis tumbuhan di hutan aman atau tidak untuk dimakan, ada beberapa kunci yang bisa dijadikan pegangan.

Tumbuhan yang daun, bunga, buah, atau umbinya biasa dimakan oleh satwa liar, adalah tumbuhan yang tidak beracun. Jadi kita bisa mengkonsumsinya. Sementara, tumbuhan yang berbau tidak sedap dan bisa membuat pusing, serta tidak disentuh oleh binatang liar, sebaiknya jangan disentuh. Juga tumbuhan bergetah yang membikin kulit gatal, dianjurkan untuk dihindari. Buah senggani (Melastoma sp.) boleh dimakan.

Tumbuhan lain yang perlu disingkirkan adalah tanaman yang daunnya bergetah pekat, berwarna mencolok, berbulu, atau permukaannya kasar. Tanaman dengan daun yang keras atau liat juga jangan dikonsumsi. Jika mendapatkan tumbuhan kemaduh (Laportea stimulans) waspadalah lantaran bulu pada daunnya membuat kulit gatal dan panas.

Sementara itu beberapa jenis tumbuhan yang mungkin ditemui di hutan dan dapat dimakan meliputi beragam jenis. Di antaranya keluarga palem-paleman, misalnya kelapa, kelapa sawit, sagu, nipah, aren, dan siwalan. Bukan hanya bagian umbutnya (bagian ujung batang muda dan berwarna putih) yang bisa dimakan, tapi juga buahnya (seperti kelapa dan siwalan).

Jenis jambu-jambuan yang masuk dalam keluarga Myrtaceae juga banyak dijumpai di hutan. Ciri-ciri Myrtaceae adalah daunnya berbau agak manis jika diremas. Bunganya memiliki banyak sekali benang sari dengan buah yang enak dimakan.

Tumbuhan semak dari keluarga begonia juga bisa jadi penyelamat dalam keadaan darurat. Daun begonia umumnya berbentuk jantung tidak simetris. Beberapa jenis dijadikan tanaman hias. Bila tangkai daunnya yang masih muda dikupas dan dimakan, rasanya masam dan sedikit pahit.

Beberapa jenis keladi umbinya bisa dimakan, meski pada jenis lain umbinya menyebabkan gatal di mulut dan bibir. Untuk itu dianjurkan untuk tidak sembarangan melahap keladi hutan. Sebaiknya dicoba dulu dalam jumlah kecil. Hindari makan iles-iles (Amorphophallus sp.)

Tumbuhan merambat dan melilit di pohon lain, bisa dimakan jika lilitan batang ke arah kanan (searah dengan jarum jam). Di antaranya gembili (Dioscorea aculeata), gembolo (Dioscorea bulbifera), ubi rambat. Tapi bila arah lilitannya ke kiri (berlawanan arah jarum jam) dan batangnya berduri, harus ekstrahati-hati. Jenis yang kedua ini misalnya gadung (Dioscorea hispida), yang beracun, walau tetap dapat dimakan setelah melalui proses pengolahan khusus.

Rebung bambu: cocok untuk alternatif makanan survival

Sementara keluarga rumput-rumputan seperti tebu dan beberapa jenis bambu, rebungnya enak dimakan. Demikian pula pisang hutan bisa langsung dikonsumsi.

Di tempat yang lembap dan tinggi, jenis paku-pakuan tunas dan daun mudanya enak dimakan. Tumbuhan lain yang buahnya juga bisa dimakan misalnya markisa (Passiflora sp.). Markisa ini adalah tumbuhan merambat dengan bunga khas. Beberapa anggota keluarga sirsak (Annonaceae), misalnya Annona muricata, daging buahnya segar. Buah lainnya semisal senggani (Melastoma sp.), arbei hutan (Rubus), dan anggur hutan.

Hindari warna mencolok
Selain tumbuhan di atas, jamur juga bisa menjadi dewa penyelamat bila tersesat. Menurut literatur, sudah ditemukan 38.000 jenis jamur di seantero dunia. Di antaranya ada yang enak dimakan, tapi sayang, yang tidak boleh dimakan karena beracun lebih banyak lagi. Tidak heran bila budaya makan jamur yang layak konsumsi konon sudah ada sejak jaman Mesir Kuno.

Untuk mengetahui jamur itu beracun atau tidak, bisa dilihat dari bentuk, warna, dan tempat tumbuhnya. Sementara di laboratorium, bisa dilakukan analisis secara kimiawi maupun dengan hewan percobaan. Tetapi jika sedang dihadapkan pada masalah mendesak survival di hutan belantara, mustahil bisa pergi ke laboratorium dulu untuk memastikan apakah jamur yang ditemukan itu beracun atau tidak. Karena itu kita perlu mengenal jamur-jamur yang biasa dikonsumsi masyarakat.

Untuk menghindari makan jamur liar beracun, perlu diketahui ciri-cirinya. Yaitu, warna payungnya gelap atau mencolok misalnya biru, kuning, jingga, merah. Perkecualian untuk jamur kuping dengan payung coklat yang toh juga dapat dimakan. Bau tidak sedap lantaran kandungan asam sulfida atau amonia juga sekaligus menunjukkan jamur tersebut tak layak konsumsi.


Tahukah Anda, beberapa jenis jamur ada yang memiliki cincin atau cawan pada tangkainya, misalnya jenis Amanita muscaria, dalam bahasa Jawa disebut supa-upas. Bentuknya seperti payung putih kekuningan, bagian payungnya warna merah bintik-bintik putih. Awas, racun pada jamur ini tergolong racun kuat. Beda dengan jamur merang (Volvariella volvacea), meski mempunyai cincin tetapi bisa dimakan.

Jamur beracun umumnya tumbuh di tempat kotor, misalnya pada kotoran hewan dsb. Mereka dapat berubah warna jika dipanasi. Jika diiris dengan pisau perak atau digoreskan pada perkakas perak akan meninggalkan warna biru. Warna biru ini disebabkan kandungan sianida atau sulfida, yang beracun. Sementara nasi akan berwarna kuning jika dicampur jamur beracun. Petunjuk lain, ia juga tidak dimakan oleh hewan liar.

Repotnya jenis jamur ini juga berbahaya kalau sampai sporanya menempel pada kulit, karena dapat menyebabkan kulit gatal, bahkan melepuh. Bagaiamana ciri-ciri orang yang keracunan jamur? Selidikilah, apakah ia pusing, perut sakit terutama ulu hati, mual, sering buang air kecil, tubuh lemas, pucat? Jika ia muntah, adakah darah pada muntahannya? Racun akibat jamur cukup ganas juga, kalau tidak tertolong korban bisa meninggal setelah 3 - 7 hari.

Sebelum dimakan, tumbuhan liar di hutan sebaiknya dimasak dulu untuk mengurangi dampak buruk seperti diare dan alergi. Bagaimana kalau sedang coba-coba makan tumbuhan hutan lantas keracunan? Masih ada upaya menetralkan. Upayakan untuk memuntahkannya dengan jalan "dipancing-pancing". Jika sudah muntah minumlah air kelapa, namun jika tak menemukannya minumlah air sebanyak-banyaknya.

Friday, August 21, 2009

Pendakian Bersama ke Gunung Rinjani 23 September - 2 Oktober


So buat kamu yang merasa tertantang pengen ikutan silahkan kontak bagian informasi dan perdaftran di atas. :)

Thursday, August 20, 2009

Pendaki Indonesia Bertekad Kibarkan Merah Putih di Elbrus


Indonesia bertekad mencatatkan namanya sebagai negara yang para pendaki gunungnya telah berhasil mencapai tujuh puncak tertinggi di dunia. Guna mewujudkan tekad itu, pendaki utama tim ekspedisi pendakian tujuh puncak tertinggi di tujuh benua dari Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), Franky Kowaas (46), berencana akan mengibarkan bendera merah putih pada 17 Agustus nanti di puncak tertinggi benua Eropa, Gunung Elbrus.

Ketua Umum FMI Jody Alexander Tirie di Jakarta, Senin (10/8), mengatakan, pendakian Elbrus direncanakan selama empat hari. Pendaki Indonesia itu ditemani Liza, wanita pendaki Rusia yang telah berpengalaman di Gunung Elbrus. Pendakian itu sebagai rangkaian ekspedisi Indonesia Seven Summits, yaitu mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua.

Senin dini hari tadi, Franky bertolak dari Jakarta menuju Moskwa, Rusia. Lalu, dia melanjutkan ke Mineralniye Vody, kota terakhir di kaki gunung. "Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menghadapi medan Elbrus demi mengibarkan bendera Merah Putih di puncaknya," kata Franky yang sudah menyelesaikan pendakian Gunung Kilimanjoro dan Cartensz Pyramid.

Jody menjelaskan, sejak Seven Summits dicetuskan pada tahun 1976 oleh para pendaki gunung dunia, hingga saat ini baru 33 negara yang telah berhasil mencatatkan rekor pendakian itu. Hingga sekarang belum ada pendaki Indonesia yang berhasil mendaki secara utuh tujuh puncak tertinggi tersebut.

Gunung-gunung yang masuk dalam Seven Summits itu adalah Gunung Elbrus di wilayah negara Federasi Rusia, merupakan gunung tertinggi di Benua Eropa. Selain itu, Gunung Everest mewakili Benua Asia; Aconcagua di Argentina mewakili Amerika Selatan; Gunung McKinley atau Denali di Alaska, Amerika Utara; Gunung Kilimanjaro di Tanzania mewakili Afrika; Vinson Massif mewakili Benua Antartika; dan Carstenz Pyramid di Indonesia mewakili Benua Australia.
Dikutip dari :
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/10/20412327/pendaki.indonesia.bertekad.kibarkan.merah.putih.di.elbrus

slideshow

Fotoku

Fotoku
lagi ikut lomba birdwatching

Islamic Web Category

Powered By Blogger